Monitoring BST, Dirjen Penanganan Fakir Miskin ke Desa Cijengkol

oleh -
Dirjen Penanganan Fakir Miskin Kemensos, Asep Sasa Purnama didampingi Kades Cijengkol Haer Suhermansyah (kanan) mendatangi rumah penerima BST dari pemerintah pusat.

Wartawan Aep Saepudin (Kowasi)

Guna monitoring penyaluran BST (bantuan sosial tunai) dari pusat, Dirjen Penanganan Fakir Miskin Kementerian Sosial (Kemensos), Drs. Asep Sasa Purnama, M.Si. menggelar kunjungan ke Desa Cijengkol, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, Minggu (31/5/2020).

banner 970x90

Pada kunjungan itu, Dirjen Asep sempat mendatangi dan berbincang-bincang dengan beberapa keluarga penerima manfaat (KPM) BST.

Selama berada di Desa Cijengkol, Asep didampingi Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi, Gloria Siswati; Camat Caringin, Anwari; Kades Cijengkol Haer Suhermansyah; perangkat desa; dan berbagai kalangan yang terkait dengan penyaluran bantuan sosial untuk warga kurang mampu. 

Setelah menuntaskan acara ramah tamah dan penyambutan di aula desa, Asep melanjutkan kegiatannya ke tiga rumah penerima BST dari pusat. Dirjen melakukan dialog dan bincang-bincang seputar penyaluran BST dari Kemensos kepada para KPM tersebut. 

“Saya pertama kali berkunjung ke Desa Cijengkol yang telah ditetapkan sebagai desa digital. Kami ingin melihat perkembangan Desa Cijengkol yang sudah naik satu tingkat menjadi desa berkembang,” kata Asep di sela-sela kegiatan monitoringnya.

Dia mengharapkan Desa Cijengkol dapat menyelesaikan semua masalah sosial di desa tersebut. Asep menilai, secara keseluruhan penyaluran BST di Kabupaten Sukabumi termasuk Desa Cijengkol berjalan dengan baik dan lancar.

“Desa Cijengkol termasuk desa yang menerima BST, Program Keluarga Harapan, dan ada juga program sembako yang dulu disebut program BPNT. Bantuan sembako khusus untuk warga yang miskin dan rentan miskin yang telah terdata. Semua program tersebut berjalan dengan baik di desa ini,” tutur Asep.

Sebagai pembuat kebijakan di tingkat pusat, lanjut dia, Kemensos memerlukan masukan dari lapangan yang dalam hal ini warga dan pemerintah desa. Masukan tersebut diperlukan untuk membuat program dari pusat nyambung dengan kondisi dan implementasi di desa-desa.

“Bapak Presiden mengharapkan tahun 2024 kemiskinan ekstrem atau orang fakir dan miskin harus harus  tidak lagi. Target dan harapan ini harus dijadikan agenda oleh setiap desa dan kelurahan,” tutur Asep. (*)

Print Friendly, PDF & Email