Setelah Masker, Kini Alkohol Langka dan Mahal

oleh -
Yopi Hidayaturrohman, pemilik apotik di Kota Sukabumi yang sedang mengalami kesulitan mendapatkan barang-barang jenis APD dan vitamin sejak merebak wabah Covid-19.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Setelah kelangkaan masker sejak bulan Januari 2020, kini di beberapa apotik di Kota Sukabumi terjadi kelangkaan alkohol sebagai salah satu bahan disinfektan. Ketika terjadi wabah Corona, permintaan terhadap alkohol terus meningkat hingga memicu kelangkaan dan kenaikan harga.

banner 720x90

Hal itu disampaikan Yopi Hidayaturrohman, salah satu pemilik apotik di Kota Sukabumi kepada wartawan, Selasa (31/3/2020). Selama tiga bulan terakhir, ujar Yopi, harga alkohol terus meroket hingga mencapai puncaknya setelah terjadi wabah Covid-19.

“Pada akhir Desember tahun lalu harga alkohol masih Rp25 ribu, paling tinggi Rp30 ribu perliter. Lalu  pada Januari 2020 mulai muncul berita Corona, harga alkohol pun menjadi Rp40 ribu perliter,” ujar Yopi.

Setelah itu memasuki bulan Februari mulai terjadi kelangkaan dan harga alkohol perlahan-lahan naik. Pada bulan Maret sudah terjadi kelangkaan dan harganya juga mencapai Rp80 ribu perliter.

Kenaikan harga juga terjadi pada jenis alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan atau glove. Dulu Yopi menjual sarung tangan seharga Rp60 ribu/box isi 50 pasang, kini harganya mencapai Rp80-85 ribu/box. Sementara harga hand sanitizer ukuran 500 ml pada akhir Desember 2019 sebesar Rp100 ribu, sekarang mencapai Rp350 ribu atau naik sebesar 250 persen.

“Selain APD dan bahan sanitiasi, obat-obatan dan vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh juga banyak dicari masyarakat. Persediaan multi vitamin di apotik kami mulai menipis karena banyak yang membeli,” ujar Yopi.

banner 720x90

Jenis vitamin yang dicari masyarakat antara lain  Vitamin A, B kompleks, C, D, dan Zinc Mangan. Kini harga multi  vitamin seperti Imboost di kisaran Rp120 ribu/strip isi 10 tablet, padahal sebelum wabah dia menjual produk tersebut dengan harga Rp70 ribu/strip.

Apotik yang dikelolanya menerima pasokan barang, baik APD, obat-obatan, dan vitamin  dari jalur resmi melalui pedagang besar farmasi. Jadi ketika pedagang besar farmasi tidak bisa menyediakan barang, apotik tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kalau tidak ada pasokan dari pedagang besar farmasi, kami hanya bisa pasrah,” ungkap Yopi. (*)   

Print Friendly, PDF & Email