Dianggap Jadul, Padahal Pencak Silat Benteng Kekuatan Budaya

oleh -
Bupati Sukabumi, H. Marwan Hamami (duduk, pakai sweater putih) menyaksikan atraksi praktik tenaga dalam oleh para pesilat dari Padepokan Satria Muda Indonesia.

Wartawan Usep Mulyana

Pencak silat sering dianggap sebagai cabang budaya dari jaman dulu (jadul) yang ketinggalan jaman. Padahal aliran seni ini merupakan salah satu benteng kekuatan budaya di Indonesia. Karena itu, budaya ini harus terus didorong agar keunggulan-keunggulannya bisa tampil ke permukaan. 

banner 970x90

Wacana tersebut dilontarkan Bupati Sukabumi H. Marwan Hamami, ketika mengunjungi Padepokan Satria Muda Indonesia (SMI) Korwil Kabupaten Sukabumi di Desa Cimanggu, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (28/9/2019). Pencak silat harus dilestarikan sebagai salah satu seni bela diri yang mengandung falsafah tinggi peninggalan nenek moyang.

“Seni bela diri pencak silat yang berkembang di beberapa negara, asal-usulnya berasal dari Indonesia. Kita juga harus melestarikan dan mengembangkan pencak silat sebagai modal untuk mempertahankan budaya,” ujar Marwan. 

Pada kesempatan itu, murid-murid Padepokan SMI menampilkan atraksi jurus dan kekuatan fisik seperti memecahkan tumpukan balok es, menahan beban batu yang diokul dengan martil, dan menahan serangan dengan tenaga dalam.

“Manfaat pencak silat ini banyak sekali. Selain untuk pelestarian budaya juga untuk menjaga kesehatan. Pada latihan pencak silat dipraktikkan gerak jurus dan latihan pernapasan yang dapat menunjang kesehatan dan kebugaran,” tutur bupati.

Dengan melestarikan dan mengembangkan pencak silat, kata dia, para pesilat dan padepokan ikut melestarikan warisan budaya serta menanamkan rasa cita tanah air dan menghargai nilai-nilai yang diwariskan nenek moyang. Bersamaan dengan itu, padepokan juga mewariskan nilai-nilai tersebut kepada generasi muda untuk memperkokoh pertahanan budaya dalam rangka menghadapi budaya asing. (*)

Print Friendly, PDF & Email