Untuk Keadilan, Bah Tatan Siap Turun ke Jalan

oleh -
Tatan Kustandi

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Posisinya sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Sukabumi tidak membuat Tatan Kustandi yang kerap disapa Bah Tatan merasa canggung untuk menyuarakan tuntutan rakyat di jalanan. Jika diperlukan dia akan berunjuk rasa sambil meneriakkan tuntutan rakyat ke pemerintah daerah.

banner 970x90

“Kalau harus turun lagi ke jalanan, saya tidak akan mengatasnamakan  pimpinan DPRD, melainkan sebagai akan tetapi ketua ormas,” kata Bah Tatan ketika dihubungi wartawan, Sabtu (29/6/2019).

Ormas yang dimaksud adalah FRMB (Forum Rakyat Miskin Bersatu) yang didirikan dan dipimpin oleh Bah Tatan. Karena itu dia mendesak Pemkot Sukabumi untuk lebih transparan dalam penggunaan anggaran untuk pembangunan. Kalau masih ada rakyat yang diperlakukan tidak adil oleh pemda, dia tidak segan-segan menurunkan massa FRMB ke lapangan. 

“Bicara keadilan rakyat, saya siap berdiri paling depan. Saya tidak mau mendengar atau melihat ada kebijakan kepala daerah  yang dianggap menyusahkan rakyat kecil. Semua kebijakan pemda harus berpihak pada rakyat,” ujarnya.

Pernyataan Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Sukabumi tersebut disampaikan untuk menegaskan posisinya yang tetap di belakang rakyat. Dia tidak ingin ada masyarakat yang mempertanyakan aktivitasnya selama ini yang tidak lagi turun ke jalan untuk berunjuk rasa. Bah Tatan tidak pernah berubah, selalu bersama rakyat dan siap menggelar unjuk rasa jika diperlukan.

Bah Tatan juga menyoroti kedatangan Tim Pencegahan Korupsi dari Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK)  RI ke Balai Kota Sukabumi  beberapa waktu lalu. Dia sepakat dengan peringatan yang disampaikan tim dari KPK kepada Pemkot Sukabumi agar tidak mengeluarkan dana dari APBD yang kesannya mengada-ada.

Waktu itu tim dari KPK menyebut uang ketuk palu dan uang pokok-pokok pikiran (pokir) sebagai pengeluaran yang mengada-ada yang lazimnya diberikan kepada anggota DPRD dalam konteks penyusunan APBD. Tatan setuju dengan pelarangan uang ketuk palu dan uang pokir tersebut karena memang tidak ada dasar hukumnya.

“Saya ingin mendapatkan uang atau rezeki yang halal dan berkah. Tidak mau memakan uang dari pendapatan yang dilarang oleh hukum,” ungkap Bah Tatan. (*)

Print Friendly, PDF & Email