Kinerja Dinkes Tidak Perlu Diragukan, Pelayanan Kesehatan Terus Naik

oleh -
H. Saleh Makbullah

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Menjelang peringatan Hari Jadi ke-105 tahun 2019, Kota Sukabumi terus menata dan membangun sektor kesehatan yang merupakan urusan wajib pelayanan dasar nomor 2 setelah pendidikan. Poin pertama keberhasilan sektor kesehatan pada tahun 2018 adalah penanganan komplikasi kebidanan yang mencapai 1.053 kasus dengan pencapaian kinerja 100%. 

banner 970x90

“Penanganan komplikasi kebidanan difokuskan kepada ibu dengan risiko tinggi dan faktor resiko yang mendapat penanganan kebidanan yang sesuai,” kata Plt. Sekda Kota Sukabumi, H. Saleh Makbullah dalam wawancara khusus menjelang  peringatan Hari Jadi ke-105 Kota Sukabumi yang jatuh pada 1 April 2019, Jumat (29/3/2018).  

Sementara cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2018 mencapai 97,9% atau naik sebesar 1,06% dibadingkan tahun 2017 yang mencapai 96,84%. Jika pencapaiannya 100% itu artinya di wilayah Kota Sukabumi tidak ada lagi persalinan oleh tenaga non-kesehatan seperti dukun beranak atau paraji.

Pencapaian lainnya sebanyak 32 kelurahan telah mencapai UCI (Universal Child Immunization)Desa/Kelurahan dari 33 kelurahan di Kota Sukabumi, hanya 1 kelurahan yang belum UCI yaitu Nyomplong. Indikator yang digunakan adalah imunisasi BCG, DPT-Hb3, Polio 4 dan MR. Tahun lalu terjadi penurunan capaian kinerja dibandingkan tahun 2017 yang mencapai 33 kelurahan. Penyebabnya sasaran imunisasi sulit dijangkau dan petugas imunisasi memiliki tugas rangkap.

“Kinerja imunisasi perlu ditingkatkan karena imunisasi merupakan langkah preventif untuk meminimalisasi terjadinya kondisi sakit pada anak,” ujar Saleh.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi juga terus meningkatkan penanganan kasus balita gizi buruk. Sepanjang tahun 2018, Dinkes menangani 15 balita gizi buruk dengan penyebaran di 7 kecamatan dalam wilayah kerja 9 puskesmas. Semua balita gizi buruk tersebut berasal dari keluarga miskin yang memiliki penyakit penyerta dan kelainan bawaan sebagai pemberat status gizinya.

Keberhasilan Dinkes juga mencakup penanganan DBD yang pada tahun 2018 mencapai 238 kasus atau turun 14 kasus dibandingkan tahun 2017 yang mencapai 352 kasus. Dalam upaya mencegah dan menurunkan kasus DBD, Dinkes fokus pada fogging massal. Penurunan kasus DBD ini juga dipengaruhi oleh adanya siklus 5 tahunan DBD setelah pada tahun 2015 terjadi peningkatan kasus DBD akibat cuaca. 

“Untuk mengantisipasi peningkatan kasus di tahun-tahun mendatang, perlu ditingkatkan kembali peran serta masyarakat melalui penggerakan Pokjanal atau kelompok kerja operasional DBD untuk mensosialisasi pemberantasan sarang nyamuk di setiap kelurahan,” ujar Plt. Sekda.

Pada Tahun 2018, Kota Sukabumi telah mencapai Universal Coverage Healthy (UHC) sebesar 95% sesuai target yang ditetapkan. Masyarakat telah memperoleh jaminan kesehatan, baik masyarakat miskin penerima bantuan iuran (PBI) maupun  masyarakat mampu Non-PBI.

Jumlah masyarakat miskin kategori PBI yang mencapai 137.160 jiwa telah difasilitasi oleh program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang bersumber dari APBN, sisanya sebanyak 42.920 jiwa difasilitasi oleh Jamkesda bersumber APBD Kota Sukabumi. Sebagian besar peserta Jamkesda sudah diintegrasikan ke sistem JKN melalui BPJS Kesehatan.

“Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, sepanjang tahun 2018 jumlah warga yang berkunjung ke Puskesmas mencapai 595.245 orang,” jelas Saleh. (*)

Print Friendly, PDF & Email