Bank Sammi Menjadi Mitra Strategis Lapak Rongsokan

oleh -
Kepala Bank Sammi, Rezi Andrian (memakai rompi hijau) saat mengecek hasil timbangan nasabah yang ditulis ke dalam buku tabungan milik nasabahnya.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Kehadiran Bank Sampah Kota Sukabumi (Bank Sammi) bukan hanya sebagai ladang usaha, melainkan juga berperan dalam memperpanjang umur TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Cikundul yang setiap harinya harus menampung 110 ton sampah. Melalui Bank Sammi, warga Kota Sukabumi bisa memperoleh penghasilan dari ketekunan memilah sampah rumah tangga. 

banner 970x90

“Setiap hari kami menerima kiriman sampah dari nasabah sebanyak 300 kilogram yang hasilnya ditabung. Kami terus mendorong masyarakat untuk menjadi nasabah tabungan sampah dengan menyetorkan sampah rumah tangga,” kata Kepala Bank Sammi, Rezi Andrian kepada wartawan di kantornya, Jalan Kerkof, Lio Santa, Kota Sukabumi, Kamis (28/3/2019).

Sampai saat ini jumlah nasabah Bank Sammi mencapai 1.300 orang. Rezi mentargetkan jumlah nasabah hingga 10 ribu. Salah satu langkah Rezi dan jajarannya dalam meningkatkan jumlah nasbah dan menjaga loyalitas nasabah adalah menjemput tabungan sampah ke masyarakat untuk mengambil sampah yang belum dipilah.

“Dalam sistem pemilahan, kami memberlakukan dua jenis saja yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Di daerah lain, diberlakukan sistem pemilahan hingga menjadi 10 jenis sampah. Jadi merepotkan dan memutuhkan ruang yang memadai serta waktu yang lebih lama,” ujar dia.

Contoh jenis sampah anorganik bekas bungkus kopi, bungkus mie instant, bungkus makanan riangan, botol atau gelas air minum dalam kemasan, plastik, dan kaca. Sedangkan jenis sampah organik antara lain kertas, kardus, dan logam.

Sampah yang diterima dari nasabah ditimbang dengan teliti dan dikonversi ke dalam rupiah sesuai harganya dan dimasukkan ke dalam tabungan. Dari semua jenis sampah, ada beberapa jenis yang tidak boleh masuk ke Bank Sammi antara lain pembalut luka dan pampers karena rentan mengandung bakteri. 

“Namun sandal, sepatu, tas, dan baju bekas bisa diterima. Untuk sampah organik berupa dedaunan, masyarakat bisa mengubahnya menjadi kompos. Kami siap membantu masyarakat untuk membuat kompos,” ujar Rezi.

Awalnya kehadiran Bank Sammi mendapat protes dari lapak-lapak rongsokan yang kahawatir usahanya tersaingi. Namun selanjutnya terbukti, Bank Sammi menjadi mitra mereka karena sampah dari nasabah dijual ke lapak-lapak rongsokan. 

Untuk harga yang ditetapkan Bank Sammi besarannya lebih rendah sekitar Rp200-300/kg daripada harga yang diberlakukan di lapak. Uang yang diperoleh dari selisih harga tersebut digunakan untuk operasional petugas yang memilah sampah. Bank Sammi juga berbagi kentungan dengan nasabah.

Untuk mengetahui jenis sampah yang diterima lapak serta harganya, petugas Bank Sammi melakukan survei ke lapak-lapak. Hasil survei menentukan lapak yang dipilih untuk membeli sampah dari nasabah. Bisa saja  sampah hasil pemilahan berdasarkan jenisnya dijual ke lapak yang berbeda dengan pertimbangan harga yang menguntungkan nasabah. (*)

Print Friendly, PDF & Email