Kelompok Milenial Berposisi Strategis dalam Kemajuan Bangsa

oleh -
Para narasumber dan peserta Diskusi Pembangunan Indonesia Periode Kedua Jokowi di Mata Generasi Milenial yang digelar di Gado-gado Boplo, Cikini, Jakarta Pusat.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Generasi milenial saat ini memiliki posisi sangat penting dalam upaya membangun dan memajukan bangsa. Karena itu saat inilah waktu yang tepat untuk membangun visi dan misi pembangunan bersama generasi milenial.

Hal itu disampaikan Tenaga Ahli Utama KSP (Kantor Staf Presiden), Rawanda W Tuturoong pada Diskusi Pembangunan Indonesia Periode Kedua Jokowi di Mata Generasi Milenial yang digelar di Gado-gado Boplo, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (26/11). Menurut Rawanda, generasi milenial saat ini melek politik, berbeda dengan sebelumnya.

“Kondisi sekarang, mereka lebih kritis dibandingkan kelompok usia masyarakat lainnya. Karena itu kelompok ini memiliki peran penting dan strategis dalam proses pembangunan bangsa,” ujar dia.

Rawanda mengajak generasi milenial untuk bergabung dengan pemerintah guna membangun dan melalukan perubahan demi kemajuan bangsa. Dia optimis, generasi milenial bisa memberikan dampak positif bagi kehidupan bangsa.

“Di era digital sekarang, semua anak bangsa bisa sama-sama belajar dan memberikan gagasan yang bagus. Saya termasuk orang yang optimis bahwa pembangunan Indonesia akan berjalan dengan mulus dengan dukungan dari generasi milenial,” tuturnya.

Selain Rawanda, pada diskusi itu tampak hadir narasumber utama Juru bicara PSI, Mikhail Gorbachev; Ketua Umum KNPI Haris Pertama; dan pengamat politik, Hasan Nasbi. 

Sementara Mikhail mengatakan, dirinya optimis generasi milenal akan membawa perubahan signifikan bagi kemajuan bangsa. Menurutnya pada tahun 2019, populasi generasi milenial ini sangat besar dan milenial diperebutkan dunia. Dunia wisata dalam negeri bisa terangkat karena kiprah dan peran generasi muda.

“Pak Jokowi sangat menangkap betul hal itu sehingga dia mengangkat staf khususnya dari kalangan anak-anak muda. Ini bukti bahwa tren anak muda saat ini sangat baik,” ujar Mikhail.

Haris Pertama menambahkan Presiden Jokowi harus fokus dalam membangun dan memberikan kesempatan kepada anak-anak muda agar mereka lebih produktif. Presiden mesti membuat kebijakan nasional untuk memberikan pelatihan khusus bagi kelompok milenial hingga ke tingkat desa. 

Pengamat Politik, Hasan Nasbi menilai, di satu sisi generasi milenial bisa menjadi energi yang sangat besar bagi bangsa asal penempatannya tepat. Namun di sisi lain ada masalah yakni kelomok ini kurang pengalaman.

“Pak Jokowi mencoba mengkombinasikan itu. Bila ini berhasil saya yakin akan dampaknya akan luar biasa karena Presiden mendapat ide-ide yang cemerlang dari anak-anak muda. Saya yakin kalau berhasil, kelompok milenial ini bisa melampaui masanya,” jelas Hasan.

Peserta dikusi menyimpulkan, generasi milenial bisa menjadi energi besar bagi kemajuan pembangunan Indonesia pada periode kedua Presiden Jokowi. Kedekatan Presiden Jokowi dengan kalangan anak-anak milenial mungkin tak diragukan lagi sejak Pilpres 2014 sampai dengan periode keduanya. Di periode kedua, Presiden menempatkan 7 anak milenial sebagai staf khusus.

Anak-anak milenial tentu harus diberi pemahaman terkait dengan kinerja pemerintah karena pada 2030 kelompok ini mencapai 70 persen dari jumlah penduduk Indonesia. (*)

Print Friendly, PDF & Email