Rencana Aksi Buruh Belum Ditanggapi PT Semen Jawa

oleh -
Pabrik PT Semen Jawa di Jalan Palabuan, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi.

Wartawan Joko Samudro (SUROBOYO)

Rencana aksi besar-besaran yang akan digelar serikat buruh di lokasi PT Semen Jawa (Siam Cement Group, SCG) belum mendapat tanggapan dari pihak perusahaan. Sampai Jumat (26/7/2019) pukul 14.30 WIB, pejabat PT Semen Jawa, Adhis  yang paling berwenang memberikan tanggapan dan penjelesan tidak merespon permintaan wawancara.

banner 970x90

Beberapa panggilan lewat telepon genggam Adhis tidak dijawab. Begitu juga permintaan wawancara tertulis lewat fasilitas aplikasi pesan lintas platform Whatsapp tidak mendapat tanggapan dari Adhis. Pemintaan wawancara itu mulai dilayangkan sekitar pukul 09.00 WIB.

Salah satu staf di PT Semen Jawa mengatakan, pejabat yang bisa memberikan keterangan seputar rencana demo para buruh itu hanya Adhis.

“Pak Adhis yang berwenang untuk memberikan keterangan, kami hanya prajurit. Beliaulah yang mengetahui kebijakan-kebijakan dan jawaban-jawaban sata pertanyaan dari federasi buruh,” kata staf tersebut.  

Seperti diketahui,  Federasi Kehutanan Industri Umum Perkayuan Pertanian dan Perkebunan pada Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (F Hukatan KSBSI) Kabupaten Sukabumi merencanakan unjuk rasa besar-besaran ke PT Semen Jawa untuk memprotes kebijakan prusahaan asal Thailand tersebut pada Senin (29/7/2019).

Baca Juga…..

F Hukatan Siapkan Demo Besar Memprotes Kebijakan SCG yang Abaikan Pengusaha Loka…

Federasi keberatan terhadap kebijakan biding atau sistem lelang pekerjaan yang diberilakukan oleh pimpinan perusahaan. F Hukatan menganggap sistem biding yang diberlakukan  seakan mengabaikan pengusaha dan pekerja lokal.

“PT SCG  masih menggunakan sistem biding atau lelang  pekerjaan  yang lama ketika komite kontraktronya dipimpin oleh dua petinggi SCG berkebangsaan Thailand,” kata Ketua F Hukatan KSBSI Kabupaten Sukabumi, Nendar Supriyatna, Kamis (25/7/2019) malam.  

Sistem yang diberlakukan merugikan perusahaan lokal. Pihak yang menjadi korban dari kebijakan tersebut adalah kalangan buruh lokal. F Hukatan KSBSI menolak hasil  biding dengan kontraktor  dan mendesak SCG untuk membatalkan rencana PHK massal. 

Terhadap tuntutan F Hukatan, staf PT Semen Jawa tersebut tidak mengetahui seluk-beluk tuntutan Nendar. Namun sepengetahuannya, persentase pekerja outsourcing yang dibawa para perusahaan mitra dari lokal mencapai sekitar 80 persen. Kalaupun perusahaan mitra itu berasal dari luar Sukabumi, kata dia, para pekerjanya sebagian besar berasal dari lokal. (*)

Print Friendly, PDF & Email