Poktan Barokah Tetap Produktif di Tengah Musim Terik Kemarau

oleh -
Ketua Poktan Barokah di Desa Cijalingan, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jejen tetap menekuni pengolahan lahan pertanian untuk budidaya sayur-sayuran.

Wartawan Aep Saepudin (KOWASI)

Kelompok Tani (Poktan) Barokah Cicantayan, Kabupaten Sukabumi tetap bersemangat untuk tetap mengolah lahan pertanian dan terus meningkatkan produktivitas di tengah musim kemarau yang terik. Dalam ancaman kekeringan, mereka tetap bertani di atas lahan yang berlokasi di Kampung Bantarkaret, Desa Cijalingan, Kecamatan Cicantayan. 

banner 970x90

“Kami tetap mengolah lahan untuk menghasilkan sayur-sayuran. Di tengah musim kemarau, kami tidak kekurangan air,”  kata Ketua Poktan Barokah, Jejen ketika ditemui di Cijalingan, Kamis (25/7/2019).

Anggotanya, ujar Jejen, tidak patah semangat walaupun ketika berada di kebun harus menahan panas matahari. Mereka tetap bekerja keras sepanjang hari agar bisa menghasilkan aneka jenis sayuran sekitar 2,5 ton perhari seperti sawi,  tomat,  cabai,  terong,  dan bawang daun. Saban hari satu mobil pick up meninggalkan area pertanian Poktan Barokah sambil membawa sayur-sayuran menuju Pasar Tinggi di Jakarta.

“Dengan tetap bekerja di ladang, kami dapat memperoleh penghasilan untuk mendukung perbaikan ekonomi keluarga,” kata dia.

Kelompok yang dipimpinnya, lanjut Jejen, memiliki anggota 30 orang dengan luas lahan yang digarap mencapai 15 hektare. Status lahan yang mereka garap ada yang milik pribadi, sebagiannya sewa atau kontrak. 

“Alhamdulillah  di musim kemarau tahun ini kami eksis terus,  tidak berhenti menggarap lahan pertanian. Di daerah lain, para petani sudah mengalami kesulitan air. Di daerah kami air mencukupi walaupun jumlahnya berkurang,” tuturnya. 

Selama ini, Poktan Barokah belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk pengadaan bibit, pengolahan lahan, maupun pemeliharaan tanaman. Semua anggota mengandalkan modal pribadi. Kalaupun mempunyai Kartu Tani, mereka belum dapat menggunakannya.

“Kami sangat mengharapkan bantuan dari pemda melalui Dinas Pertanian agar kelompok tani kami bisa lebih berkembang dalam hal modal dan kapasitas usaha guna meningkatkan kesejahteraan seluruh anggota,” ungkap Jejen.

Bantuan dari pemerintah yang diharapkannya bisa berupa modal usaha, bibit, peralatan, dan fasilitas keselamatan kerja. Salah satu peralatan yang sangat dibutuhkan oleh mereka adalah traktor untuk membajak sawah.

“Selain itu kami juga mohon perhatian dari pemerintah terhadap infrastruktur pengairan di areal pertanian yang kami kelola. Saluran irigasi yang ada saat ini kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Padahal fungsi irigasi tersebut sangat strategis karena dapat mengairi lahan pertanian seluas 20 hektare,” kata Jejen. (*)

Print Friendly, PDF & Email