Memasuki New Normal, Pemerintah Harus Mendorong Penguatan Ketahanan Keluarga

oleh -
Para narasumber pada diskusi virtual Indonesia Podcast Show 4 dengan tema "New Normal Cara Efektif Membangkitkan Ekonomi" di Jakarta.

Wartawan Nanang Setiana

Mamasuki new normal dalam menghadapi wabah Covid-19, pemerintah harus mendorong bagi terbentuknya keluarga tangguh agar dapat menghadapi berbagai halangan dan rintangan di masa sulit. Sebab peran keluarga sangat sentral dalam penanganan krisis akibat pandemi Covid-19.

banner 720x90

Hal itu dikatakan Direktur Pengembangan Strategi BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Agus Wibowo pada diskusi virtual Indonesia Podcast Show 4 dengan tema “New Normal Cara Efektif Membangkitkan Ekonomi” di Jakarta, Jumat (26/6/2020).  Menurut Agus, pemerintah perlu memberikan stimulus bagi terbentuknya keluarga-keluarga tangguh.

“Jadi selain memberikan layanan kesehatan dan bantuan ekonomi kepada pelaku usaha, pemerintah juga perlu memberikan dorongan untuk menguatkan ketahanan keluarga di masa sulit,” kata Agus. 

Dalam konteks ini, menurutnya, sebuah keluarga disebut tangguh dalam menghadapi Covid-19 jika dapat memahami cara  penularan, gejala, langkah pencegahan, serta cara penanganannya. 

“Setiap keluarga harus menerapkan kiat dalam menghadapi new normal yaitu 4 sehat 5 sempurna dengan rincian mengenakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, olahraga dan tidur teratur, serta mengkonsumsi makanan bergizi,” kata Agus.

Pada diskusi itu tampil narasumber lain yaitu Staf Ahli Bidang Konektivitas, Pengembangan Jasa, dan Sumber Daya Alam Kementerian Perekonomian, Edi Prio Pambudi; Deputi III KSP Bidang Perekonomian, Panutan S Sulendrakusuma; Sekretaris Fraksi PKB DPR RI, Fathan Subkhi; dan pengamat dari Universitas Al-Azhar, Zaenal Budiyono.

banner 720x90

Sementara akademisi Zaenal Budiyono menyampaikan, bagaimanapun pemerintah harus berhasil dalam mengambil langkah-langkah terkait pemberlakuan new normal. Karena kalau tidak, dalam penanganan Covid-19 akan terjadi kemunduran. Untuk menghadapi perkembangan yang dinamis, pemerintah harus memiliki plan B, plan C, plan D, dan seterusnya.   

“Sebisa mungkin  kita melanjutkan new normal, tetapi kalau memang terjadi kasus Covid-19 lagi, kita menghentikan berbagai macam kegiatan terbuka,” tutur Zaenal.  

Di forum diskusi virtual itu, Sekretaris Fraksi PKB DPR RI, Fathan Subkhi mengatakan, fraksinya mendukung langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk menggerakkan sektor real agar bisa pulih kembali. Salah satu bentuk dukungan Fraksi tersebut adalah menyetujui Perppu dalam penanganan Covid-19 agar wabah tersebut cepat berlalu. 

“DPR memberikan catatan-catatan penting ketika pemerintah menganggarakan dana stimulus perekonomian yang mencapai Rp908 triliun. Itu bukti dukungan DPR pada pemerintah,” ujar Fathan.

Fathan menilai saat ini bangsa Indonesia tidak bisa berbicara soal Covid-19 jika ekonomi melemah. Pemerintah harus cepat karena jika terlambat maka ekonomi akan memburuk.

“New Normal ini sebagai salah satu cara untuk membangkitkan ekonomi baik sektor real dan sektor-sektor lainnya. Dan yang tidak kalah penting adalah meningkatkan daya beli masyarakat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” tutur Fathan.

Sementara Staf Ahli Kementerian Perekonomian, Edi Prio Pambudi mengatakan, pemerintah harus melakukan kajian mendalam dalam hal pemberlakukan new normal. Keputusan ini tentu tidak semata-mata melonggarkan pembatasan-pembatasan tapi harus dilakukan dengan penuh syarat dan perhitungan risiko yang sudah dibahas secara matang.

“Dari sisi ekonomi, jangan sampai kemudian pada saat sudah mulai pulih, ternyata muncul masalah. Karena tiga bulan ditutup itu tidak mudah untuk melanjutkan langkah. Nah inilah yang kemudian harus dilakukan secara simultan, pararel, bersamaan, dan kemudian dievaluasi. Jangan lupa, proses evaluasi ini terus berjalan,” papar Edi.

Deputi III KSP, Panutan S Sulendrakusuma menambahkan, menghadapi kondisi seperti ini masyarakat harus tetap mengikuti anjuran  pemerintah yang dibuat berdasarkan pendapat para ahli kesehatan. Paling tidak tiga hal yang harus tetap dilakukan masyarakat yaitu menggunakan masker, menjaga jarak satu setengah meterdan mencuci  tangan.  

“Ini bukan untuk pemerintah, tapi untuk kita semua, untuk kebaikan kita semua. Lakukan tiga hal itu, maka Insya Allah adaptasi menuju masyarakat yang produktif tapi aman dan sehat itu akan terjalin,” kata Panutan. (*)

Print Friendly, PDF & Email