Harga Ubi Kayu di Cidadap Terjun Bebas

oleh -
Musim panen ubi kayu di wilayah Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi telah tiba. Sejak awal bulan Ramadhan ini, para penduduk disibukkan dengan pengolahan ubi kayu untuk dijual kepada pengepul palawija.

Wartawan Hamjah

Harga ubi kayu di tingkat petani di wilayah Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi mengalami penurunan yang sangat drastis. Para pengepul membeli ubi kayu dari para petani dengan harga Rp1.300 perkilogram atau turun lebih dari setengahnya dari harga normal Rp3 ribu perkilogram.

banner 970x90

“Biasanya paling rendah kami membeli ubi kayu dengan harga Rp2 ribu perkilogram. Sekarang harga ubi kayu sedang jatuh,” kata Jaja (42), pengepul dari Desa Padasenang, Kecamatan Cidadap kepada wartawan, Sabtu (25/5/2019).

Jaja menjual ubi kayu yang dibeli dari para petani ke salah satu perusahaan kuliner keripik di Tangerang. Saat ini, persediaan ubi kayu di Ciadadap sedang melimpah bersamaan dengan tibanya musim panen. Sayangnya, kata dia, di musim panen sekarang, harga ubi kayu sedang jatuh.

“Biasanya ubi kayu diterima dengan harga rendah kalau pengirimannya lebih dari dua hari sejak dipanen. Pabrik keripik  tidak mau menerima ubi kayu yang kondisinya basi,” jelas Jaja. 

Persyaratan yang diterapkan pabrik keripik itu kadang-kadang terlepas dari kalkulasi para pengepul sehingga berdampak kerugian bagi mereka. Bisa dikatakan, ujar Jaja,  kalau harga turun, pengepul sulit dapat untung. 

Ubi kayu yang tidak sempat langsung dibawa ke pabrik keripik bisa dijual ke pabrik tepung tapioka, namun harganya jauh lebih murah. Jadi, para pengepul seperti Jaja akan tetap berupaya untuk menjual ubi kayu ke pabrik keripik untuk mengejar harga yang lebih tinggi.

“Namanya usaha tentu kami akan mengejar keuntungan agar dapat memperoleh hail yang lebih besar dari modal. Kami juga harus memberikan keuntungan kepada para petani yang telah bekerja keras untuk menghasilkan ubi kayu,” tutur Jaja.

Selama menekuni bisnis sebagai pengepul hasil pertanian, khususnya palawija seperti ubi kayu, Jaja telah mengalami pasang surut sejalan dengan perkembangan dan dinamika pasar. Bagaimanapun, dia akan tetap menekuni usaha di bidang pertanian tersebut.

“Pasang surut atau untung rugi itu biasa dalam usaha. Saya hanya bisa menjalani usaha ini agar tetap bisa bertahan walaupun harga barang jatuh ke titik yang serendah-redahnya. Seperti sekarang, harga ubi kayu jauh di bawah harga normal, saya tetap menjalankan usaha ini,” kata Jaja. (*)

Print Friendly, PDF & Email