Halal Bi Halal di Kampus IAID Ciamis Tawarkan Konsep Peneguhan Kebangsaan

oleh -
Para peserta Halal Bi Halal Kebangsaan di Kampus IAID Ciamis menyimak pemaparan oleh penceramah yang berasal dari kalangan kampus, budayawan, pemerintahan, dan kepolisian.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Perpecahan yang terjadi pascaPemilu 2019 sudah saatnya diakhiri. Terkait dengan upaya mengakhiri segala bentuk perpecahan selama pemilu lalu, Institut Agama Islam Darussalam (IAID) menggelar  Halal Bi Halal Kebangsaan di Kampus  IAID, Jalan KH. Ahmad Fadlil l2, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Senin (24/6/2019).

Pada kegiatan yang mengambil tema “Meneguhkan Kebangsaan dalam Menjalin Harmonisasi Ukhuwah Umat, Berbangsa, Bernegara” tersebut tampil sejumlah pembicara antara lain budayawan Jawa Barat, H. Nurhadi, Lc; Ahmad Nabil Atoilah S.Th., M.Hum. (Warek IAID Bid. SDM), Dr. Sumadi, M.Ag (Dekan Fakultas Syariah/Biro Kemahasiswaan IAID Ciamis), H. Andang Firman (Kepala Kesbangpol Kabupaten Ciamis), AKP Roesdiana (Kapolsek Cijeungjing), dan Ketua BEM IAID Ciamis, Ilham Nur Suryana.

Dalam ceramahnya, Ahmad Nabil Atoilah S.Th., M.Hum. mengajak seluruh anak bangsa untuk mengkaji ulang  kebangsaan agar bangsa Indonesia tidak kehilangan jati diri. Untuk menilai hasil Pilpres, kata Ahmad, semua komponen bangsa harus menyerahkan kepada pakar dan lembaga yang memiliki otoritas.

“Mari kita silaturahmi dan rekonsiliasi yang melibatkan semua komponen bangsa. Hayu  kita mengembangkan rasa saling menyayangi, kita rangkul baik pendukung 01 maupun pendukung 02,” ujar Ahmad.

Sementara budayawan kahot   Nurhadi membahas  konsep terkait sikap dan upaya untuk peneguhan dan pengokohan kebangsaan. Sikap-sikap sikap yang disebut Nurhadi itu terdiri dari penanaman sikap berbuat baik semata karena Allah; memberikan yang terbaik untuk orang lain; menghindari sikap egois, anarkis individualistis atau antipati sosial; dan mempercayai bahwa orang lain juga bisa bersikap seperti kita.

Halal Bi Halal Kebangsaaan diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAID dan Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M). Jumlah peserta yang hadir mencapai sekitar 100 orang.  

Nurhadi juga mengupas kiat-kiat merajut ukhuwah umat yang dirumuskan dalam langkah-langkah harmonisasi kebangsaan melalui tawasuth, tawazun, dan tasamuh; dinamisasi umat; ritmisasi masalah umat; dan melodisasi tatanan umat. Dari semua langkah yang dilakukan itu, ujar Nurhadi, tujuannya adalah untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki dengan hati yang selalu bisa mensyukuri nikmat dari Allah SWT.

Ketua BEM IAID Ciamis, Ilham Nur Suryana dalam sambutan dan ceramahnya mengupas sejarah halal bi halal. Tradisi halal bi halal, kata Ilham, merupakan budaya asli Indonesia yang pertama kali dilakukan oleh KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyawa. Kegiatan ini perlu dilestarikan  sebagai refleksi budaya yang dipadukan dengan nilai-nilai keagamaan.

“Awalnya tidak dikenal istilah halal bihalal. Istilah ini muncul  setelah Indonesia merdeka. Pada tahun 1948, para pemimpin yang saat itu selalu berbeda pendapat duduk dalam satu meja agar kesalahan-kesalahan mereka dimaafkan atau dihalalkan. Sejak itu, muncul istilah halal bi halal,” jelas Ilham.

Sementara Kapolres Ciamis yang diwakili  AKP Roesdiana menyampaikan, beda pilihan dalam Pemilu hendaknya menjadi permusuhan atau perpecahan. Pemilu sudah lewat, dia mengajak hadirin untuk melanjutkan  habluminannas dan siap mempertahankan NKRI.  Dia mengharapkan segera terwujudnya rekonsiliasi secara menyeluruh di wilayah Ciamis. (*)

Print Friendly, PDF & Email