Harga Daging Ayam Broiler Bikin Panas Masyarakat

oleh -
Salah seorang pedagang ayam yang mangkal di lingkungan permukiman warga tetap dikunjungi pelanggan setianya di tengah harga komoditas yang harganya terus naik.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Di saat kondisi negara sedang memanas terkait proses penghitungan suara Pilpres, harga daging ayam broiler ikut-ikutan memanas. Padahal bulan Ramadhan masih cukup jauh sekitar dua minggu lagi.  Berdasarkan pantauan wartawan di berbagai pasar tradisional di Kota Sukabumi, dalam beberapa hari terakhir harga daging ayam negeri tersebut naik dari Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu perkilogram.

banner 720x90

“Sudah beberapa hari ini harga daging ayam naik dan bikin panas para pembeli karena beban ekonomi mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi bertambah,” kata Nining (43), salah seorang pedagang daging ayam broiler yang biasa mangkal di kawasan Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi kepada wartawan, Rabu (24/4/2019).

Tanda-tanda naiknya harga daging ayam broiler, ujar Nining, sudah muncul sejak dua minggu lalu. Perlahan-lahan, harga daging ayam naik dan puncaknya terjadi beberapa  setelah pemungutan suara mencapai Rp40 ribu perkilogram.

“Walaupun harga naik, jumlah daging yang dijual setiap harinya tidak berubah. Artinya kenaikan harga daging ayam tidak membuat masyarakat meninggalkan menu daging ayam,” kata dia.

Nining merasa khawatir mendekati hari H puasa nanti harga ayam akan melambung lebih tinggi karena permintaan akan daging ayam meningkat tajam. Dia mengharapkan harga daging ayam bisa kembali stabil. Selain daging ayam, kata Nining, beberapa komoditas bahan makanan mengalami kenaikan harga seperti bawang putih dan tomat.

“Mudah-mudahan tidak ada lagi kenaikan harga daging ayam ketika mendekati puasa. Persediaan daging ayam sejauh ini aman karena ada kiriman dari Jawa,” tambahnya.

banner 720x90

Sementara itu salah seorang ibu rumah tangga,  Fatimah (40) warga Kelurahan Dayeuhluhur,  Kecamatan Warudoyong mengeluhkan naiknya daging ayam tersebut. Walaupun harganya naik, daging ayam tetap dibeli secara rutin karena telah dijadikan menu tetap di keluarganya. 

“Kami tetap membeli daging ayam sekalipun harganya naik. Anak saya tidak mau makan kalau tidak dengan daging ayam,” kata dia.

Fatimah dan ibu rumah tangga lainnya juga masih dipusingkan dengan harga bawang putih yang masih bertahan di titik Rp45 ribu/kg, belum lagi harga tomat yang ikut-ikutan naik. Kata Fatimah cukup politik saja yang memanas, tapi kalau harga sembako tidak perlu panas. (*)

Print Friendly, PDF & Email