Pesan Pimpinan Ponpes Al-Fath kepada Para Guru: Mulailah Menulis Buku

oleh -
Pimpinan Ponpes Al-Fath Sukabumi, KHM. Fajar Laksana mendorong para guru untuk menulis LKS atau buku ajar sebagai acauan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada Diklat Penulisan Buku Ajar bagi Tenaga Pengajar.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Para guru dari tingkat SD hingga SMA/SMK/MA harus bisa membuat buku pelajaran ataupun LKS (Lembar Kerja Siswa) agar tidak mengandalkan buku atau LKS karya orang lain. Dengan buku atau LKS karya sendiri, para guru dapat menyampaikan materi pelajaran kepada para siswa dengan lebih baik.

banner 970x90

Hal itu disampaikan Pimpinan  Ponpes Dzikir Al-Fath Sukabumi, KHM. Fajar laksana pada pembukaan Diklat Penulisan Buku Ajar bagi Tenaga Pengajar di pesantren yang dipimpinnya, Sabtu (23/3/2019). Kemampuan menulis buku ajar, kata dia, juga harus dimiliki oleh para dosen.

“Dalam menulis buku ajar atau buku untuk mahasiswa, penulis harus memiliki kerangka pikir dan standar ilmiah dengan materi berdasarkan kurikulum atau silabus yang ditetapkan pemerintah,” ujar Fajar.

Menurut Fajar, para guru dan dosen memiliki bekal dan modal yang cukup untuk menulis buku. Kuncinya adalah kemauan untuk memulai menulis buku atau LKS. Para guru mempunyai kemampaun menjabarkan isi kurikulum. Dengan demikian, mereka juga dapat menuangkan isi kurikulum ke dalam bentuk tulisan.

Pada diklat tersebut tampak hadir perwakilan para guru SD, SMP, SLTA, serta kalangan dosen dari berbagai perguruan tinggi. Fajar mengharapkan dari diklat yang digelarnya akan lahir penulis-penulis hebat yang mampu berbicara di tingkat nasional dan dunia.

Untuk memantapkan keyakinan peserta diklat, Ponpes Al-Fath mengundang praktis penerbitan dari Jakarta yakni Dani Khamdani, pengurus  Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) dan pendiri Penerbit Khalifah Mediatama Group. Dari narasumber tersebut, para peserta  mendapatkan informasi seputar buku-buku yang dapat laku di pasaran.

Senada dengan Fajar, Dani juga berharap kepada para guru untuk menggunakan buku hasil karya sendiri sebagai bahan ajar. Menurut dia, belum tentu buku yang dibuat oleh orang lain sesuai dengan kondisi sekolah dan para siswa. Jadi, para guru harus berani memulai menulis buku. 

“Untuk menggali potensi para penulis buku,  tampaknya penerbit harus menjemput bola. Sebenarnya kemampuan para guru sudah ada, tinggal didorong agar berani membuat tulisan. Sayangnya kepedulian pemerintah terhadap potensi menulis buku di kalangan para guru masih kurang. Karena itu kalangan swasta dan tokoh masyarakat harus menggali dan mendorong potensi yang dimiliki para guru itu,” ujar Dani.

Dalam waktu dekat ini, penerbit milik Dani akan merilis sedikitnya 12 judul buku hasil karya para penulis dari Kota Sukabumi. Dia sudah mendapatkan daftar dari judul dan penulis buku-buku yang akan diluncurkan secara nasional tersebut. 

Di Kota Sukabumi, lanjut Dani, ada buku hebat karya KH. Munandi Saleh yaitu biografi KH. Ahmad Sanusi. Buku tersebut dijadikan kado istimewa oleh pemerintah kepada salah satu duta besar negara sahabat. Diharapkannya, para penulis di Sukabumi dapat menghasilkan karya-karya besar seperti itu.

“Kami ingin mendorong para penulis agar memperhatikan potensi dan kemampuannya dalam menulis buku. Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh  penulis adalah judul buku yang merupakan roh dari buku. Judul menentukan persepsi masyarakat terhadap buku dan mempengaruhi pemasaran buku tersebut,” jelas Dani. (*)

Print Friendly, PDF & Email