KH. Ma’ruf Amin Dorong Santri Menjadi Presiden

oleh -
Para dai muda sebagai peserta lomba dai milenal untuk memeriahkan Santrifest di Serang, Banten.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Cawapres 01, KH. Ma’ruf Amin mendorong para santri untuk menjadi pemimpin dan tetap optimistis menyambut masa depan. Karena para santri bisa menjadi pemimpin termasuk menjadi presiden seperti KH. Abdurahman Wahid atau Gus Dur.

banner 720x90

“Santri harus optimis karena santri bisa jadi apa saja, bisa jadi kiai, bisa jadi gubernur, bisa jadi menteri, dan saya sendiri yang dulu menjadi santri bisa menjadi wakil presiden,” kata Kiai Ma’ruf saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Santrifest dan Lomba Dai Milenial di Hotel Le Dian, Serang, Banten, Sabtu (23/3/2019).

Gus Dur, kata dia, harus dijadikan cermin keberhasilan santri dalam meraih posisi tertinggi dalam kepemimpinan bangsa. Dengan optimis dan kerja keras, ujar Kiai Ma’ruf, santri bisa meraih kedudukan yang dapat menentukan perjalanan bangsa.

Sekarang ini, ujar Kiai Ma’ruf, para santri harus mempersiapkan diri dalam menghadapi kemajuan dan tantangan zaman, utamanya terkait revolusi industri 4.0. Adanya revolusi industri 4.0, kata Kiai Ma’ruf di hadapan ratusan hadirin Santrifest, membawa dampak serius pada perilaku masyarakat karena akan banyak tradisi lama yang ditinggalkan dan diganti tradisi baru.

“Revolusi industri 4.0 merupakan trandisi baru yang harus dihadapi para santri. Makanya santri harus berdiri di depan untuk mengawal tradisi yang masih bagus,” tuturnya.

Lomba dai pada Santrifest yang mengusung tema “Dai Milenial Sebagai Penjaga Ukhuwah Islamiyah dan Keutuhan Bangsa” diikuti belasan peserta. Pada lomba itu bertindak sebagai juri Ustad Ahmad Zubaidi, Ahmad Sobari, Habiburrahman (budayawan yang pernah menulis novel Ayat-ayat Cinta),  dengan moderator Lutfi Sobahi.

banner 720x90

Salah seorang peserta Siti Rohmatul menyampaikan ceramah keharusan generasi milenial menjadi qudwah hasanah  atau suri teladan yang tampil di depan dengan segala keteladanan yang mulia. Keteladanan diperoleh dari perilaku dan tuntunan Nabi. Kemajuan teknologi, kata dia,  di satu sisi bisa memberikan kemudahan dalam berdakwah, namun di sisi lain dapat membawa  hal yang negatif.

“Maka generasi milenial dituntut untuk pandai menfilter dengan tepat dan bijak segala perangkat tekonologi. Ambil yg baik dan buang yang buruk,” ujar Siti.

Peserta bernama Iqbalus Salam menyampaikan materi ceramah seputar hoax. Menurut dia, melalui hoax seseorang dengan mudah mengkafirkan, menyalahkan, atau menyesatkan orang lain. Lingkungan santri memiliki tradisi tabayun atau mengklarifikasi berita yang beredar luas. Dengan tabayun, hoax akan terbukti kebohongannya.

Rohan Syafaat pada lomba dai tersebut menyampaikan,  globalisasi bisa mendorong manusia menjauh dari ajaran agama. Karena itu generasi muda harus memiliki pendirian yang teguh dengan tidak mudah terpengaruh oleh budaya luar, termasuk dalam hal gaya berbusana. Saat ini masyarakat menghadapi ancaman dari bahaya hoax dan fitnah yang disebar melalui media sosial. Generasi muda harus menjadi pelopor dalam menangkal penyalahgunaan media sosial seperti itu. (*)

Print Friendly, PDF & Email