Kepala Disnakertrans Membuka Pembekalan Kedai Kopi di Sukamantri

oleh -
Duduk dari kanan ke kiri Dadang Budiman (Kepala Disnakertrans), Cecep Andi Rusmawan (Kades Sukamantri), Kusyairin (Kabid Penempatan Kerja), Dadang Tapiana (Kasi Perluasan Tenaga Kerja), dan salah satu peserta pelatihan usahawan kedai kopi.

Wartawan Usep Mulyana

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sukabumi, Dadang Budiman membuka kegiatan pembekalan bagi usahawan baru bertempat di Aula Desa Sukamantri, Kecamatan Cisaat, Senin (22/7/2019). Pada kegiatan tersebut, Disnakertrans membekali para pelaku usaha kedai kopi yang berdomisili di Desa Sukamantri dengan keterampilan dan kemampuan mengelola usaha.

banner 970x90

“Kalau hanya urusan mengocek kopi, semua orang pasti bisa. Tapi dalam usaha kedai kopi harus pula dikembangkan  seni mengolahnya agar kopi menjadi  lebih bernilai dan mendatangkan keuntungan yang jauh lebih besar. Dan yang terpenting, usaha ini memiliki nilai ibadah,” kata Dadang setelah membuka pembekalan tersebut.

Pembekalan yang digelarnya, ujar Kepala Dinas, bertujuan untuk memberdayakan masyarakat, khususnya pelaku usaha kedai kopi supaya menjadi lebih mandiri. Agar usaha kedai kopi dapat berkembang dan cepat meraih pelanggan, pelaku usahanya harus kreatif dalam meracik dan menyajikan kopi.

“Untuk meningkatkan keterampilan tersebut, kami menyelenggarakan pembekalan ini,” tutur Dadang.

Para pemilik kedai kopi di Desa Sukamantri memiliki peluang untuk berkembang yang cukup besar, kata dia. Sebab mereka memiliki kebun kopi dan mengolah serta meracik biji kopi secara mandiri. Orisinalitas kopi asal Sukamantri benar-benar dapat dijaga oleh para pengusaha kedai kopi di desa ini.  

“Bahan baku kopi di Sukabumi jumlahnya cukup melimpah. Maka pembekalan ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh pengusaha kedai kopi agar mereka dapat menjadi usahawan kopi asal Sukabumi yang handal,” ujarnya.

Materi pembekalan, lanjut dia, berkisar seputar peningkatan kemampuan dalam skill dan manajemen pengembangan usaha. Kegiatan tersebut diselenggarakan atas permintaan para pengusaha kedai kopi.

“Inisiatif tidak harus dari pemerintah. Tapi boleh juga datang dari masyarakat. Karena mereka lebih tahu situasi dan keadaan yang sebenarnya serta lebih tahu apa yang dibutuhkan,” tambah Kepala Disnakertrans.

Pada bagian lain Dadang menerangkan iklim investasi dan situasi ketenagakerjaan di Kabupaten Sukabumi yang tengah mengalami turbulensi. Sampai sekarang sudah tujuh perusahaan garmen dinyatakan ditutup dan merumahkan ribuan karyawannya. Para investor lebih suka memindahkan pabriknya ke daerah yang UMR-nya rendah, salah satunya Semarang.  

UMR Kabupaten Sukabumi berkisar antara Rp2,8 juta sampai Rp2,9 juta, sementara di Semarang dan sekitarnya besaran UMR-nya antara Rp1,2 juta hingga Rp1,6 juta.  

Ditemui di tempat yang sama, Kepala Desa Sukamantri, Cecep Andi Rusmawan menjelaskan, jumlah peserta pembekalan wirausahawan baru itu sebanyak 20 orang.  Sebagian besar adalah pelaku usaha yang memiliki lapak usaha sendiri dan sebagian lainnya masih mengontrak atau sewa. (*)

Print Friendly, PDF & Email