Guru Honorer yang Menjadi Jutawan dari Daun Sereh

oleh -
Hamparan kebun sereh di bawah perbukitan menjajikan kesejahteraan bagi para petani dan pemilik kilang minyak sereh.

Wartawan Dicky Sopyan

Kisah perjalanan Edi Hermawan (38), warga Kampung Padasenang, Desa/Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi memberikan inspirasi. Awalnya dia menjalani profesi sebagai guru honorer, lalu berubah pekerjaan menjadi petani dan produsen minyak sereh wangi. Kini kehidupan Edi lebih wangi dari usaha budi daya sereh dengan penghasilan mencapai puluhan juta perbulan.

banner 720x90

Minyak sereh wangi yang diproduksi kilang miliknya tidak hanya diminati pasar dalam negeri, tapi juga diserap oleh perusahaan parfum dan farmasi di berbagai negara, khususnya Uni Eropa. Edi mengekspor minyak sereh hasil olahannya ke mancanegara melalui perantara sebuah perusahaan swasta.

Dia terjun di agrobisnis sereh wangi sejak 2016. Kini Edi mengelola lahan kebun sereh seluas 70 hektare, sebagian besar terletak di wilayah Kabupaten Cianjur dekat perbatasan dengan Tegalbuleud. Semua kebun serehnya telah dapat dipanen.  

“Dihitung sejak penanaman, pada umur 6 bulan, sereh wangi bisa dipanen perdana. Selanjutnya, daun sereh dipanen tiap dua bulan sekali. Artinya, selama satu tahun, tanaman sereh  bisa dipanen sebanyak enam kali,” ujar Edi. 

Pembudidaya minyak sereh Edi Hermawan (kanan) bersama Edi Suheryadi, pejabat pertanian dari Pemprov Jabar. 

Setiap hari Edi bisa memanen daun sereh dengan kuantitas 1 ton. Dari 1 ton daun sereh wangi yang diolah dengan diuapkan, Edi bisa meraup 8-12 kilogram minyak sereh berkualitas tinggi dengan pendapatan kotor Rp3 juta.

“Jadi dalam satu bulan saya bisa memperoleh hasil penjualan minyak sereh kotor sebesar Rp180 juta,” tambahnya.

banner 720x90

Selain itu, dia masih mendapatkan bonus berupa limbah padat dari daun sereh dan limbah cair dari sisa penyulingan. 

“Limbah cair sereh bisa dimanfaatkan untuk pestisida nabati. Sedangkan limbah padatnya bisa dijadikan pakan ternak untuk sapi dan kambing. Kerbau juga doyan. Pengolahan kedua jenis limbah tersebut dengan cara dioplos bersama bahan lainnya,” kata Edi. 

Saat ini Edi dipercaya menjadi ketua kelompok tani sereh. Kepada anggotanya dia selalu menyarankan bertransaksi dengan pengepul untuk bahan jadi berupa minyak sereh. Kalau menjual dalam bentuk bahan baku, paling-paling petani mendapatkan harga Rp1.500 perkilogram daun sereh.

“Lebih baik petani menjual dalam bentuk hasil olahannya. Sebab mereka juga akan mendapatkan limbahnya yang juga bernilai ekonomi,” tutur Edi. (*)

Print Friendly, PDF & Email