BIN Tulang Punggung Keberhasilan Deradikalisasi Eks Napi Teroris

oleh -
Deputi Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara (BIN) Dr. Wawan Hari Purwanto (keempat dari kiri) pada konferensi pers bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dalam rangka reintegrasi eks napiter ke pangkuan NKRI di Solo.

BIN Tulang Punggung Keberhasilan Deradikalisasi Eks Napi Teroris

Wartawan Nanang Setiana

banner 970x90

Badan Intelijen Negara (BIN) terus menggencakan dan mengimplementasikan program deradikalisasi kepada para eks napi teroris (napiter). Sebagai lini pertama dalam sistem keamanan nasional, BIN merupakan tulang punggung dalam program deradikalisasi dan terlibat aktif dalam proses rehabilitasi eks napiter agar mereka bisa kembali mengakui NKRI dan dapat diterima oleh masyarakat luas.

Demikian hal itu dikatakan Deputi Komunikasi dan Informasi BIN Dr. Wawan Hari Purwanto pada konferensi pers bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dalam rangka reintegrasi eks napiter ke pangkuan NKRI di Solo, Senin (17/8/2020). Secara khusus program tersebut menyasar kalangan narapida teroris (napiter) maupun eks napiter.

Keberhasilan rehabilitasi eks teroris, kata Wawan, memiliki arti penting bagi keamanan nasional maupun internasional.

“Rehabilitasi eks napiter merupakan upaya memanusiakan manusia sekaligus memberikan kesempatan kedua untuk menebus kesalahan mereka di masa lalu,” ujar Awan dalam keterangan persnya.

Proses deradikalisasi, ujar dia, bertujuan untuk merehabilitasi dan mereintegrasi eks napiter agar bisa kembali ke masyarakat. Program tersebut dilaksanakan secara terpadu oleh sejumlah kementerian dan lembaga terkait serta melibatkan partisipasi publik.

“Dalam praktiknya memang ada sejumlah kendala. Namun, program deradikalisasi boleh dikatakan telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Banyak eks napiter yang telah hidup mampu normal. Bahkan ada juga yang menjadi duta anti terorisme,” jelas Wawan.

Bersama dengan instansi negara lainnya, BIN bekerja keras untuk melakukan rehabilitasi terhadap eks napiter. Salah satu keberhasilan program deradikalisasi oleh BIN bisa dilihat pada perubahan pada eks napi teroris Paimin dan Priyatmo.  

Paimin ditangkap atas rencana jahat bersama kelompoknya yang akan meracuni polisi. Sementara Priyatmo alias Mamo merupakan eks napiter yang menjalani hukuman lima tahun penjara atas kepemilikan senjata yang diselundupkan dari Filipina ke Indonesia.

“Mereka memiliki latar belakang kasus terorisme dan kelompok yang berbeda, baik Paimin, Priyatmo, dan eks napiter lainnya. Namun semuanya  telah sama-sama kembali kepada pangkuan NKRI. Mereka mengambil kesempatan kedua untuk menebus kesalahan masa lalunya,” terang Wawan

Para eks napiter itu kini fokus pada upaya untuk memperbaiki taraf perekonomian keluarga masing-masing dan lingkungan di sekitar rumahnya. Priyatmo menjadi ketua kelompok tani ikan di lingkungan tempat tinggalnya. 

“Kepada Priyatmio dan kelompok taninya, kami memberikan pelatihan budi daya ikan secara mandiri, termasuk dalam produksi pakan ikan untuk meningkatkan keuntungan,” jelasnya.

Penanganan radikalisme harus dapat dilaksanakan dari hulu hingga hilir dan melibatkan semua pihak. Selain pemerintah, masyarakat juga perlu berperan aktif dalam menerima kembali para eks napiter.

“Mengucilkan eks napiter dan keluarganya justru akan semakin membuat mereka masuk ke dalam lingkaran kekerasan dan dapat kembali menjadi teroris,” bebernya

Wawan mengimbau masyarakat untuk terus aktif menangkal radikalisme. Dalam melaksanakannya, kata dia, masyarakat harus mengimplementasikan semangat toleransi, nilai-nilai kebangsaan, dan nilai-nilai ajaran agama.  

Pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, lanjut dia, terus mengembangkan komitmen  untuk memerangi paham radikal dan terorisme. Upaya dan komitmen pemerintah dalam mendukung program deradikalisasi.

“Program deradikalisasi juga menjadi sangat penting dilakukan di tengah ancaman serangan narasi terorisme yang banyak menyebar lewat internet,” kata Wawan. (*)

Print Friendly, PDF & Email