Santri Al-Fath Tampil Memukau di Arena Muvies Gedung Sate

oleh -
Pertunjukan drama kolosal para santri Al-Fath.

Wartawan YUS F. PURWASARI (PWI)

Nama besar Museum Prabu Siliwangi dan Ponpes Dzikir Al-Fath terus berkibar di tingkat Jawa Barat. Buktinya, pesantren dan museum yang terdapat di Kota Sukabumi itu mendapatkan kehormatan untuk menampilkan drama kolosal pada pembukaan Muvies (Museum Festivities) dalam rangka Anniversary ke-1 Museum Gedung Sate.

“Kepercayaan yang diberikan panitia Muvies di Gedung Sate sangat menbanggakan kami. Penampilan anak-anak asuhan kami dapat memukau hadirin,” kata pengasuh Ponpes Dzikir Al-Fath yang juga pengelola Museum Prabu Siliwangi, KHM. Fajar Laksana ketika dihubungi, Minggu (17/3/2019).

Drama kolosal melibatkan ratusan santri dari Ponpes Al-Fath. Pagelaran seni tersebut merupakan perpaduan seni teater, musik, dan tari. Di dalamnya terdapat atraksi pencak silat, bola leungeun seuneu (boles) atau bola tangan api, dan ngagotong lisung. Khusus boles dan ngagotong lisung, itu merupakan atraksi seni yang mengandung kekuatan supranatural. 

“Drama kolosal yang kami tampilkan menceritakan kesiapan dan kemampuan para santri dalam mengolah kanuragan untuk menjaga NKRI, kampung,  kota, dan kabupaten dengan kekuatan tenaga dalam melalui olah hawa panas atau hawa nafsu,” jelas Fajar.

Selama ini, dia berjuang untuk memperkenalkan boles dan ngagotong lisung ke tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional. Dari perjuangannya itu, kedua kesenian tersebut dikenal oleh berbagai kalangan, bahkan hingga ke mancanegara. Boles dan ngagotong lisung telah menjadi salah satu ikon Kota Sukabumi.

Pentas drama kolosal dilangsungkan Jumat (15/3/2019) malam lalu. Pada malam pertunjukan itu tampak hadir pada pejabat Gedung Sate dan Sukabumi di antaranya Sekda Provinsi Jawa Barat, Iwa Karniwa; Wakil Bupati Sukabumi, H. Adjo Sardjono; Kepala Dinas P dan K Kota Sukabumi, Dudi Fathul Jawad; dan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Porapar) Kota Sukabumi, Adang Taufik.

Setelah pertunjukan, Dudi menyampaikan komentar dan pendapatnya. Walaupun sering menonton boles dan ngagotong lisung, Dudi kagum dan kaget melihat atraksi dua keseian itu dipadukan dalam satu paket seni drama kolosal. Menurut dia, para pemain drama kolosal itu nyata-nyata menguasai teknik seni tari dan teater untuk dapat tampil prima dan memukau. 

Boles dan ngagotong lisung, ujar dia, dibina oleh oleh dua dinas yakni Dinas P dan K untuk hal-hal yang berkaitan dengan budaya dan Dinas Porapar untuk aspek pengembangan pariwisatanya. Keduanya telah menjadi ikon daerah dan diakui dunia sebagai hasil inovasi Kota Sukabumi.

“Saya salut kepada Pak Kiai Haji Fajar yang tidak lelah-lelahnya dengan biaya sendiri terus mempertahankan dan mempromosikan budaya Sunda. Kerja keras beliau telah mengangkat Kota Sukabumi di kancah internasional,” ujar Dudi. (*)

Print Friendly, PDF & Email