Dari Goalpara Merambah Pasar Mebel dengan Ban Bekas

oleh -
Kursi yang terbikin dari limbah ban dipajang di toko, tanpa dipasarkan secara khusus, pembelinya berdatangan.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Nama H. Ali Sarta sudah berkibar sejak 34 tahun yang lalu sebagai pelaku UKM  yang memproduksi berbagai barang bermanfaat dari limbah ban.  Berbekal keterampilan dan ketekunannya, Ali dapat merambah pasar mebel ke berbagai daerah. Dari tempat usahanya, dia menghasilkan kursi, tempat sampah, karpet untuk lapangan golf, dan berbagai komponen untuk mesin.

banner 720x90

“Kami telah memasarkan hasil kerajinan kami ke berbagai daerah. Sistem pemasarannya tradisional, sederhana dan seadanya,” kata Ali ketika ditemui di tempat pengolahan ban bekas miliknya di Jalan Goalpara Nomor 151, Kampung Nyalindung, Desa/Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jumat (17/1/2020) pagi.

Wilayah pemasaran produk Ali Sarta tersebar di beberapa daerah seperti Jabodetabek dan Cirebon. Karena terbuat dari ban, mebel bikinannya sangat kuat dan tahan lama serta tidak dimakan rayap. Ali menjual produknya dengan harga bervariasi di kisaran Rp750 ribu sampai Rp1,5 juta.

“Cukup murah untuk empat kursi dan satu meja. Boleh dicoba, produk kami awet dan kuat,” jelasnya.

Ali memasarkan produknya dengan metode getok tular, dari mulut ke mulut di antara para pembeli yang merasa puas. Dia tidak beriklan dan tidak pula memanfaatkan media sosial karena tidak memahami cara menggunakan gadget teknologi informasi. Namun produknya menyebar dan dikenal di berbagai tempat. Nama Ali diidentikkan dengan kreativitas memanfaatkan ban bekas.  

Dalam menjalanakna usahanya, Ali dibantu oleh anak-anaknya yang ikut turun tangan dalam proses produksi mebel dari ban bekas. Pabriknya mempunyai lima pegawai yang semuanya memiliki kompetensi di bidang kerajinan limbah ban.  Dipukul rata, seorang pekerja bisa menyelesaikan satu set kursi perhari.

Proses pembuatan kursi diawali dengan pemotongan ban bekas.

Untuk mendapatkan limbah ban, dia telah memiliki jaringan dengan pengepul ban bekas dan beberapa garasi di Sukabumi. dia selalu dapat memenuhi kebutuhan akan bahan baku.

“Saya juga mengerjakan  vulkanisir ban dan membuat beberapa komponen untuk mendukung kerja mesin,” tutur Ali.

Komponen mesin yang dimaksudnya  antara lain stoper untuk menahan guncangan dan engine mounting  yakni penyekat logam pada dudukan mesin. Dua komponen tersebut berbahan baku karet mentah yang diolah secara khusus. Untuk engine mounting  di toko dengan harga sekitar Rp250 ribu, Ali menjual produk sejenis paling mahal Rp125 ribu, separonya. Soal mutu, boleh diadu.

“Beberapa perusahaan bus sering memesan stoper kepada kami. Sekarang ini saya ingin bekerja sama dengan pemda untuk penggunaan tempat sampah. Kepada Pak Bupati dan Pak Wali Kota, pakailah tempat sampah dari limbah ban bikinan kami. Dijamin awet dan tahan banting,” ujar Ali. (*)

Print Friendly, PDF & Email