Bulan Rayagung Diminati Calon Pengantin di Warudoyong

oleh -
Rahmat

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Di antara 12 bulan dalam sistem kalender Hijriyah, bulan Zulhijah atau dalam bahasa Sunda disebut bulan Rayagung paling diminati sebagai waktu menikah oleh calon pengantin yang tinggal di Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi. Pada bulan terakhir tahun Hirjiyah itu, KUA Warudoyong kebanjiran pemohon pasangan pengantin yang akan melangsungkan ijab kabul.

banner 970x90

“Kebanyakan calon pengantin di wilayah kerja kami mengajukan permohonan nikah di bulan Zulhijah atau Rayagung. Bulan Zulhijah termasuk bulan favorit untuk menikah. Jadi bulan depan kantor kami akan ramai dengan pengajuan pernikahan,” kata Kepala KUA (Kantor Urusan Agama) Kecamatan Warudoyong, Rahmat  saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa (16/7/2019).

Selain bulan Rayagung, bulan lainnya yang padat jadwal penikahan adalah bulan Rabiul Awal atau bulan Mulud. Pada dua bulan ini, jumlah pemohon nikah bisa mencapai ratusan. Sementara bulan-bulan yang sepi pernikahan adalah Safar dan Ramadhan.   

“Bulan lalu yang jatuh pada bulan Syawal, jumlah pemohon nikah ada 30 pasang calon pengantin. Bulan ini kira-kira sama sebanyak itu juga,” ujar Rahmat.

Dalam satu tahun, ujar dia, jumlah peristiwa nikah di wilayah Kecamatan Warudoyong bisa mencapai 450 pernikahan. Para pasangan pengantin itu melangsungkan pernikahan di KUA atau di rumah mempelai.

Tentang persyaratan, dalam pengajuan permohonan, calon pengantin harus membawa Modil N1 dari kantor kelurahan atau kantor desa yang dilengkapi data calon beserta kedua orang tuanya. Kemudian dilampiri dokumen kependudukan calon pengantin berupa fotokopi KTP, Kartu Keluarga, akte lahir, dan ijazah terakhir. Persyaratan lainnya fotokopi KTP kedua saksi. 

“Untuk calon pengantin dengan status duda atau janda, selain membawa persyaratan nikah tersebut juga harus melampirkan akta cerai atau akta kematian bekas isteri atau suaminya. Akta kematian bisa diganti dengan surat keterangan kematian dari kantor kelurahan atau desa setempat,” jelasnya.

Selama ini kendala yang dihadapi KUA antara lain saat hendak menggelar bimbingan perkawinan. Ketika KUA mengundang calon pengantin, biasanya calon pengantin suami yang berasal dari luar Kota Sukabumi karena kesibukan dan aktivitasnya mewakilkan calon isterinya saja untuk ikut bimbingan perkawinan.

“Padahal kami sudah arahkan mereka ikut bimbingan perkawinan karena bimbingan ini wajib untuk membekali calon pengantin dengan pengetahun seputar rumah tangga,” ujar Rahmat. (*)

Print Friendly, PDF & Email