MUI: Jangan Pilih Calon Kades yang Bermain Dukun

oleh -
Ketua MUI Kecamatan Caringin, KH. Hasbu Burhanudin (kanan) pada sebuah acara pelatihan keagamaan di Desa Cikembang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi.

Wartawan Usep Mulyana

Ketua MUI Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, KH. Hasbu Burhanudin mengimbau masyarakat tidak memilih calon kepala desa yang terbukti bermain mata dengan dukun. Menurut Hasbu, calon kades seperti itu tidak akan mendatangkan berkah bagi masyarakat karena dia minta bantuan kepada orang yang mendapat istidraj atau dalam bahasa sunda disebut sungkunan dari Allah SWT.

“Dukun itu kan dikasih istidraj oleh Allah. Orang yang meminta bantuan pada dukun juga mendapatkan hal yang sama. Karena itu masyarakat sebaiknya tidak memilih calon pemimpin yang meminta bantuan pada dukun,” kata Hasbu kepada wartawan, Selasa (15/10/2019).

Para calon kepala desa yang akan maju dalam kontestasi Pilkades serentak 17 Nopember 2019, ujar kiai yang terkenal karena sifat tawadhunya itu, harus menjauhi praktik-praktik perdukunan. Apapun alasannya, perdukunan lebih cenderung mendekatkan kepada kesesatan ketimbang kemaslahatan.

“Calon kepala desa yang meminta bantuan pada dukun untuk memuluskan jalannya agar terpilih menjadi kepala desa adalah  pengikut thagut. Boleh dikatakan dia pelopor kemusyrikan,” ujar Hasbu.

Hendaknya, lanjut dia, para calon kepala desa berpegang teguh pada asas rasionalitas dan berserah diri kepada Allah SWT. Gunakanlah cara-cara yang diridhoi Allah. Para calon kades tidak menempuh jalan yang bertentangan dengan ajaran agama. Kalau gemar bermain dukun, kata Hasbu, jelas sudah mereka adalah pengikut kelompok Arroof dan Kahin yaitu dua jenis dukun di zaman Rasulullah.

Dalam tarikh Islam tercatat, pada zaman Nabi Muhammad ada kelompok dukun lepas yang disebut Arroof yang memiliki kesaktian dapat melihat kejadian pada masa lampau. Satu lagi kelompok Kahin yang berilmu linuwih bisa meneropong masa depan serta meramal nasib baik dan buruk. 

“Kedua jenis dukun itu adalah antek-antek setan. Menurut sebuah keterangan, kedua dedengkot dukun ini biasa mencuri informasi dari langit. Sehingga banyak orang yang percaya pada Arrof dan Kahin. Padahal semua hasil teropongannya itu hanya kebetulan,” ujar Hasbu.

Kalaupun seorang calon kades akan meminta bantuan secara syariat, sebaiknya dia datang ke orang saleh. Dalam memberikan nasihat atau pendapat, orang saleh akan menggunakan ilmu agama.

“Kalau datang ke dukun, jamuannya paling-paling jampi  dan asap yang mengepul dari pembakaran dupa. Sedangkan kalau mendatangi orang saleh dan taat agama, dia akan menerima amalan-amalan yang bisa membuat hati menjadi adem dan selalu berpikiran positif tentang masa depan. Kalau terpilih itu karena Allah. Kalaupun tidak terpilih, itu cita-cita yang tertunda. Ilmu agama akan membuat calon kades berpikiran positif,” jelasnya. 

Ditemui terpisah salah seorang bakal calon kepala desa Caringin Kulon, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi Mulyadi mengatakan, dia mengharamkan perdukunan. Mulyadi ogah meminta bantuan dukun ketika menghadapi urusan atau problem.

“Bagi saya, hasil apapun dari proses perdukunan itu tidak akan membawa kemaslahatan. Lebih baik saya medatangi ahli hikmah untuk minta pandangan dan doanya,” kata Mulyadi.

Dukun, ujar dia, sebaiknya tidak muncul dalam percaturan Pilkades karena bisa menimbulkan fitnah dan prasangka buruk. Kelompok dukun hanya pantas berkiprah pada zaman togel atau masa maraknya perjudian. (*)   

Print Friendly, PDF & Email