Warga Mengapresiasi Polisi yang Melarang Peledakan di Leuwidingding

oleh -
Di lokasi pertambangan PT TSS tidak terdengar lagi bunyi ledakan setelah dilarang oleh Polres Sukabumi.

Wartawan Usep Mulyana

Warga tiga RT di RW 01 Kedusunan Leuwidingding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi mengapresiasi Polres Sukabumi yang melarang peledakan di lokasi pertambangan PT Tambang Semen Sukabumi (PT TSS). Dengan keputusan polisi tersebut, warga Leuwidingsing terbebas dari gangguan suara dan getaran sebagai akibat langsung dari ledakan.  

banner 970x90

“Seluruh warga RW 01 sangat mendukung langkah aparat kepolisian yang menghentikan kegiatan ledakan dan  kegiatan penambangan di Leuwidingding,” kata tokoh masyarakat Leuwidingding, Ustadz Herlan Jatnika kepada wartawan, Selasa (13/8/2019) pagi.

Selama ini, ujar Herlan, ketika ledakan di pertambangan PT TSS belum dilarang, warga selalu terganggu oleh bunyi dan getaran yang cukup kuat. Menurut Herlan, anak-anak Leuwidingding juga dilanda trauma oleh ledakan itu. Jadi selain menimbulkan kerusakan ringan berupa retak-retak pada bangunan rumah, ledakan di pertambangan  PT TSS menimbulkan gangguan psikis pada anak-anak.  

“Karena itu kami mendukung langkah kepolisian yang menghentikan kegiatan perusahaan pertambangan di Leuwidingding. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Bapak Kapolres Sukabumi atas keputusan tegas dari beliau,” ungkap Herlan.

Peledakan di pertambangan PT TSS, tambah dia, biasanya dilakukan  setiap Senin, Rabu, dan Jumat sekitar pukul 16.00 WIB. Tiga RT yaitu RT 04, 07, dan 08 mengalami dampak langsung akibat ledakan tersebut. Warga selalu cemas dan waswas setiap kali mendengar ledakan karena khawatir dapat merubuhkan rumah mereka.  

Tokoh masyarakat Leuwidingding, Ustadz Herlan Jatnika (kanan) bersama rekannya Hendi.

“Pihak perusahaan hanya memberikan ganti rugi untuk memperbaiki rumah warga yang retak-retak akibat ledakan,” ujarnya.

Seperti diketahui, terhitung Senin (12/8/2019), Kapolres Sukabumi, AKBP Nasriadi menghentikan untuk sementara waktu kegiatan penambangan PT TSS di Kampung Leuwidingding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah. Polisi mensinyalir, kegiatan penambangan yang disertai dengan ledakan bom mengganggu warga dan menimbulkan kerusakan di permukiman penduduk.

“Tidak boleh ada peledakan untuk sementara waktu. Begitu juga untuk sementara waktu tidak boleh ada kegiatan penambangan di lokasi Leuwidingding,” ujar Kapolres.

AKBP Nasriadi telah mengikuti uji coba peledakan untuk mengetahui dampak getaran bahan peledak yang terbakar terhadap permukiman warga. Saat uji coba, dia berdiri di permukiman warga. Kapolres merasakan getaran yang cukup kuat dan melebihi ambang batas yang dapat ditolerir. Dia pun memahami keluhan dan protes warga Kampung Leuwidingding terhadap ledakan dari pertambangan PT TSS.

Selain itu, polisi juga menemukan kejanggalan dalam hal perizinan PTT TSS yang merupakan mitra pemasok bahan mentah kepada PT Siam Cement Group (SCG) atau PT Semen Jawa. Untuk aktivitas peledakan di sekitaran Leuwidingding, dokumen PT TSS belum lengkap.

“Kami minta kepada pemilik pertambangan untuk menyelesaikan semua keluhan warga sebelum melanjutkan kegiatan penambangan. Jangan menggunakan bahan peledak yang berlebihan. Kami sarankan sebaiknya tidak menggunakan bahan peledak agar tidak ada masalah dengan warga,” ucap Kapolres.

Informasi di lapangan menyebutkan, ledakan bom dari lokasi pertambangan PT TSS menimbulkan kerusakan pada rumah warga yang tinggal di Kedusunan Leuwidingding. Ratusan rumah terdampak ledakan dan mengalami retak-retak pada dinding dan lantainya. (*)

Print Friendly, PDF & Email