Warga Cipatuguran Desak PLTU Segera Tangani Abrasi

oleh -
Tenaga ombak terus-menerus menggerus bibir pantai di kawasan Cipatuguran.

Wartawan M. Ridwan

Warga Kampung Cipatuguran mendesak PLTU Jabar 2 Palabuhanratu untuk segera mengambil langkah-langkah nyata dalam menangani abrasi yang melanda perkampungan mereka. Keadaan saat ini, jarak ujung ombak ke rumah terdekat dengan pantai hanya sekitar 10 meter.

banner 970x90

Desakan warga itu disampaikan pada pertemuan antara masyarakat, Muspika Palabuhanratu, dan pihak PLTU Jabar 2 di Pos TNI Angkatan Laut Cipatuguran, Rabu (12/8/2020). Pertemuan dihadiri puluhan warga dari Kampung Cipatuguran RW 6 Desa Jayanti serta Kampung Cipatuguran RW 20 dan RW 21 Kelurahan Palabuhanratu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. 

Dalam pertemuan itu, masyarakat dari tiga RW itu menginginkan jawaban yang pasti dari PLTU terkait penanganan abrasi. Mereka selalu merasa waswas karena saban hari jarak pantai ke permukiman semakin mendekat. Perlahan-lahan bibir pantai mendesak ke darat.

Namun PLTU Jabar 2 Palabuhanratu yang diwakili Manajer Administrasi, Irwanto tidak memberikan jawaban yang saklek dan jelas. Sepanjang pertemuan, Irwanto tidak bisa membuat keputusan yang dapat memenuhi harapan masyarakat. Dia hanya mengatakan, usulan warga Cipatuguran harus dilaporkan terlebih dahulu ke kantor pusat PT Indonesia Power.

“Nanti kantor pusat yang akan membuat keputusan,” jawab Irwanto kepada wartawan seusai mengikuti pertemuan.  

Pertemuan warga Kampung Cipatuguran dengan pihak PLTU Palabuhanratu membahas abrasi yang mengancam permukiman penduduk.

Pada pertemuan itu tampak hadir jajaran Muspika Palabuhanratu dan pejabat lainnya seperti Camat Palabuhanratu Ahmad Samsul Bahri, Kapolsek Palabuhanratu Kompol Okki Eka Kartikayana, Komandan Pos TNI AL, Lurah Palabuhanratu Deni Zulpan, Kepala Desa Jayanti  Nandang, serta perwakilan dari DLH dan DKP Kabupaten Sukabumi.

Ketua RW 21 Kelurahan Palabuhanratu, Ujang Sudira mengatakan dirinya kecewa atas sikap PLTU yang tidak memberikan jawaban yang pasti. Padahal, kata dia, permasalahan menyangkut abrasi ini harus segera ditangani dan diselesaikan.

“Warga yang tinggal di Cipatuguran merasa terancam dengan adanya abrasi tersebut. Pantai terkikis terus-menerus hingga jaraknya ke rumah terdekat tinggal sekitar 10 meter,” tutur Ujang.

Sebelum ada PLTU, kata dia, jarak permukiman ke unjung pantai sekitar 100 meter. Sekarang ombak yang mengalir ke pantai berada di depan mata warga Cipatuguran. Air laut terus menggerus bibir pantai yang memicu abrasi hingga menyentuh permukiman penduduk.  

“Saya merasa kecewa atas hasil pertemuan ini karena tidak ada kepastian waktu untuk penanganan abrasi. Kami khawatir Kampung Cipatuguran tenggelam karena digerus oleh abrasi,” kata dia.  

Sementara itu tokoh Cipatuguran, Ade menegaskan, karena tidak ada hasil dalam musyawarah, masyarakat akan mengadu kepada wakil rakyat di DPRD Kabupaten Sukabumi besok siang. (*)  

Print Friendly, PDF & Email