Tagihan Listrik Naik karena Pemakaian pada Masa PSBB Meningkat

oleh -
Kantor PT PLN UP3 Sukabumi di Jalan Bhayangkara Nomor 220 Kota Sukabumi.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Akhirnya, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero memberikan penjelasan seputar penyebab meroketnya tagihan listrik untuk pembayaran bulan Juni 2020 yang dikeluhkan banyak kalangan. Menurut PLN, kenaikan tagihan disebabkan bertambahnya pemakaian energi listrik selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan bulan Ramadhan.

banner 970x90

Jadi penyebabnya bukan adanya kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Pihak PLN berani memastikan tidak ada kenaikan TDL untuk tagihan listrik bulan Juni 2020 dan bulan-bulan sebelumnya.  

“Kami jamin tidak ada kenaikan tarif dasar listrik untuk tagihan bulan Juni. Tagihan naik karena adanya kenaikan pemakaian listrik oleh pelanggan,” kata Manager PT PLN UP3 (Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan) Sukabumi, Ichwan Sahroni kepada wartawan, Jumat (12/6/2020).

Tagihan listrik, ujar dia, digunakan dua komponen utama yakni pemakaian dan tarif listrik. Dua komponen tersebut dikalikan untuk menghasilkan besaran tagihan listrik. Sejak 2017 lalu, TDL belum naik-naik. PLN tidak akan dapat menaikkan TDL karena itu merupakan kewenangan pemerintah.

Juga tidak benar ada teori subsidi silang yakni PLN memberikan stimulus kepada pelanggan bersubsidi 450 VA dan 900 VA yang dananya dibebankan kepada pelanggan nonsubsidi. Tidak benar itu, ujar Ichwan karena stimulus dibayarkan oleh pemerintah. Jadi PLN tidak kehilangan pendapatan dari pemberian stimulus untuk pelanggan bersubsidi terdampak wabah Covid-19.

Sejak wabah Covid-19, sejalan dengan aturan sosical distancing, PLN tidak melakukan pencatatan penggunaan listrik, lanjut Ichwan. Sehingga untuk tagihan bulan April, PLN menggunakan rata-rata pemakaian bulan Desember 2019, Januari 2020, dan Februari 2020.

Tagihan bulan Mei 2020 menggunakan rata-rata bulan Januari, Februari, dan Maret 2020. Sedangkan untuk tagihan bulan Juni 2020 dihitung berdasarkan hasil pencatatan angka pada KWH pada bulan Mei 2020.  

“Untuk meringankan beban pelanggan, kami menerapkan kebijakan skema perlindungan lonjakan tagihan. Apabila pada bulan Juni 2020 besarnya tagihan lebih tinggi 20 persen dari bulan Mei maka pelanggan ditagihkan sebesar tagihan bulan Mei 2020 ditambah 40 persen dari nilai kelebihan dari rekening bulan Mei 2020,” jelas dia.

Nanti sisanya sebesar 60 persen dari kenaikan tersebut ditambahkan pada tagihan bulan Juli, Agustus, dan September 2020 masing-masing dengan penambahan sebesar 20 persen dari nilai kenaikan rekening bulan Juni dibandingkan tagihan bulan Mei 2020. (*)

Print Friendly, PDF & Email