SDN Brawijaya Deklarasi Sekolah Ramah Anak

oleh -
Ketua P2TP2A Kota Sukabumi, Hj. Fitri Hayati Fahmi menandatangani spanduk deklarasi Sekolah Ramah Anak disaksikan Kepala SDN Berawijaya, R. Histato D Kobasah.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

SDN Brawijaya Kota Sukabumi mendeklarasikan  Sekolah Ramah Anak (SRA) di halaman sekolah tersebut, Kamis (10/10/2019). Pada waktu bersamaan, SDN Brawijaya juga menggelar deklarasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), pengukuhan dokter kecil (Dokcil),  dan pengukuhan apoteker kecil  (Apocil), dan launcing Marching Band SDN Brawijaya (Bahana Swara Brawijaya).

banner 970x90

Rangkaian kegiatan tersebut dihadiri Ketua P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak) Kota Sukabumi, Hj. Fitri Hayati Fahmi, Kabag Kesra Setda Kota Sukabumi, Aang Jaenudin, Kasi Pembinaan Peserta Didik pada Disdikbud Kota Sukabumi, Erry Yuanawati, dan Ketua Ikatan Apoteker Indonesia Cabang Kota Sukabumi, Fachrizal.

“Sekolah kami berkomitmen dengan lima kegiatan yang disatukan dalam rangka memberikan yang terbaik untuk melayani dan menjadikan  sekolah sebagai rumah kedua. SRA akan membuat siswa merasa nyaman, bahagia, dan senang melakukan hal-hal baik untuk bekal mereka masa depan mereka,” kata Kepala SDN Brawijaya, R Histato D Kobasah ditemui di tengah kesibukan deklarasi SRA.

Ke depan, ujar Histato, SDN Brawijaya akan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk meingkatkan inovasi dan layanan pendidikan serta menjadi sekolah yang menginspirasi se-Indonesia. Histato yang baru 2,5 bulan memimpin SDN Brawijaya telah mengambil berbagai langkah inovatif untuk kemajuan sekolah.

“Kami telah memiliki kantin sehat dan sumber air bersih dengan pengeboran. Selain itu kami menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler tambahan juga penambahan sarana dan prasarana dari CSR perusahaan dan para orang tua yang peduli terhadap kemajuan sekolah,” tutur dia.

Semuanya dilakukan untuk mewujudkan SRA ideal, ujar Histato.  Salah satu ciri SRA, para siswa diakui sebagai anggota keluarga yang harus dilindungi dengan memberlakukan anti kekerasan dan anti sikap represif. Semua elemen lingkungan sekolah harus humanis dengan pendekatan psikologi perkembangan anak dan semuanya menggunakan hati. 

Sementara itu Fitri Hayati Fahmi mengatakan, tugas dirinya sebagai ketua P2TP2A adalah mendukung terwujudnya SRA. Dia mengharapkan semua sekolah bisa mendeklarasikan sebagai SRA.

“Ketika Komnas Perlindungan Anak mengatakan Kota Sukabumi tidak masuk kota layah anak, silahkan saja. Namun yang menilai Kota Sukabumi sebagai kota layak anak adalah pemerintah pusat. Kami telah berupaya semaksimal mungkin melakukan sosialisasi perlindungan anak sampai tahap membuat perda. Tugas kami mengajak semua kalangan untuk menjadikan Kota Sukabumi sebagai kota layak anak,” tutur Fitri. (*)

Print Friendly, PDF & Email