Pemuda Seuseupan Mengubah Plastik Menjadi BBM

oleh -
Komunitas penggiat lingkungan hidup yang beranggotakan pemuda dan pelajar Desa Seuseupan yang mengolah plastik menjadi BBM. Dari kiri ke kanan Solihin Bahri (ketua komunitas, paling kiri), Ruslan (wakil ketua, di atas balai-balai), dan Lalan (staf desa, tengah, pakai jaket).

Wartawan Usep Mulyana

Kisah inspiratif datang dari seorang pemuda Desa Seuseupan, Kecamatan Caringin,  Kabupaten Sukabumi. Dialah Solihin Bahri, warga Kampung Ciseupan Hilir RT 01 RW 06 Desa Seuseupan yang mampu menyulap limbah plastik menjadi minyak mentah. Di tangan Bahri dan komunitasnya, sampah organik dari plastik bisa diproduksi menjadi BBM berkualitas sedang.

“Saya ini penggiat sosmed. Mulanya saya menemukan artikel tentang cara praktis mengolah limbah plastik menjadi BBM. Setelah saya praktikkan sendiri, ternyata berhasil. Sampai sekarang saya dan teman-teman terus memproduksi minyak berbahan plastik, masih tahap uji coba,” kata Bahri kepada wartawan, Kamis (10/10/2019).

Dia harapkan kiprahnya dalam mengolah plastik menjadi minyak kelak bisa bermanfaat bagi orang banyak. Keinginan membuat BBM tersebut berangkat dari keprihatinan atas menumpuknya sampah yang mengganggu aliran air ke lahan pertanian. Dia berpikir, jika  pasokan air ke lahan pertanian berkurang, dampaknya dapat  menurunkan tingkat produksi pertanian. 

“Lalu kami membentuk komunitas peduli lingkungan. Komunitas inilah yang menggerakkan tempat produksi BBM dari sampah plastik. Kami pun bergerak aktif untuk mengumpulkan sampah dari rumah-rumah warga dan lingkungan sekitar dengan cara jemput bola,” ujar Bahri.

Berangkat dari semangat membebaskan lingkungan dari sampah plastik, Bahri dan komunitasnya terus melakukan sosialisasi kepada warga terkait produksi BBM yang dikelolanya. Warga diajak untuk berpartisipasi agar mendukung program pamanfaatan sampah plastik tersebut. 

“Sementara ini kami belum bisa memproduksi minyak mentah dalam jumlah banyak karena belum memiliki alat produksi yang memadai, masih manual,” tutur dia.

Proses produksi pembuatan BBM itu cukup sederhana. Awalnya sampah plastik dicuci hingga bersih. Setelah bersih, sampah dikeringkan, lalu dimasukkan ke dalam kaleng bekas biskuit ukuran besar dan ditutup rapat. Selanjutnya plastik di dalam kaleng dipanaskan dengan suhu 300 derajat celsius.

“Pada bagian atas kaleng diberi lubang sebagai tempat pipa kecil yang berfungsi untuk mengalirkan hasil penyulingan dari pembakaran sampah plastik,” jelas Bahri.

Proses pembakaran berlangsung selama 30 menit. Tapi jika menggunakan alat berbasis energi listrik, kata Bahri, proses pembakaran hanya 10 menit. Sebenarnya, pemanasan yang benar itu harus  pakai energi listrik karena bisa lebih cepat dan  lebih murah.

Dari 10 kilogram sampah plastik, dengan proses pengolahan menggunakan mesin listrik, kuantitas BBM yang dihasilkan  3,5 liter solar, 2 liter bensin,  dan 1 liter minyak tanah. Untuk menunjang efektivitas produksi, Bahri mengharapkan bantuan alat tersebut dari pemerintah. (*)

Print Friendly, PDF & Email