Pembangunan Ruang Rawat Inap RS Al-Mulk Tidak Terkena Refocusing

oleh -
Kabag PBJ Setda Kota Sukabumi Fahrurrazi ketika diwawancara seputar kelanjutan pembangunan ruang rawat inap RS Al-Mulk.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Pembangunan ruang rawat inap RS Al-Mulk yang sempat tertunda tahun lalu karena gagal lelang dianggarkan kembali tahun 2020. Proyek ini tidak terkena program refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19.

banner 970x90

Dalam waktu dekat Pemprov Jabar akan segera menggelontorkan anggaran sebesar Rp5 miliar sebagai dana bantuan keuangan kepada Pemkot Sukabumi untuk membangun ruang rawat inap di rumah sakit milik Pemkot Sukabumi tersebut.

“Ya memang pembangunan ruang rawat inap RS Al-Mulk dianggarkan kembali tahun ini. Tidak lama lagi proses lelangnya akan segera dimulai,” kata Kepala Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ) Setda Kota Sukabumi, Fahrurrazi ketika ditemui di kantornya, Kamis (9/9/2020).

Program refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19, ujar dia, tidak berlaku bagi sektor pendidikan dan kesehatan. Karena itu, pembangunan ruang rawat inap RS Al-Mulk lolos dari program tersebut. Karena itu pula, pembangunan Puskesmas Nanggeleng dan pekerjaan ruang isolasi di RUSD Syamsudin juga dikerjakan tahun 2020.

“Namun sampai sekarang kami belum menerima dokumen untuk kelanjutan pembangunan ruang rawat inap RS Al-Mulk,” kata Fahrurrazi.

Ada kemungkinan, kata dia, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi sebagai penanggung jawab proyek menunggu penyesuaian dengan aturan baru yakni Permen PUPR Nomor 14 Tahun 2020 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi melalui Penyedia.

“Dinkes ingin update supaya pengajuan tender sejalan dengan peraturan yang baru. Namun waktu terus berjalan, sekarang sudah bulan Juli. Kami harus menanyakan dokumen untuk memulai tender kepada Dinkes,” ujarnya.

Begitu pun dengan pembangunan Puskesmas Nanggeleng yang dananya bersumber dari bantuan keuangan Provinsi Jabar, BPBJ belum menerima pengajuan tender. 

Hal itu menimbulkan kekhawatiran bagi jajaran BPBJ, mereka takut waktu tender mepet ke akhir tahun. Jika tender dilaksanalan mendekati akhir tahun, kata Fahrurrazi, hal itu bisa berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan. Bisa juga tender tidak terlaksana dan anggaran kembali tidak terserap.

“Kami terus mendorong SKPD untuk mengajukan permintaan tender tidak mendesak ke akhir tahun agar pekerjaan bisa selesai tepat waktu dan anggaran terserap,” ujar Fahrurrazi. (*)  

Print Friendly, PDF & Email