Pemdes Lembursawah Gunakan Pola Membangun dari Pinggiran

oleh -
Salah satu penerapan pola membangun dari pinggiran adalah mengembangkan saluran irigasi di sisi pinggiran desa.

Wartawan Joko Samudro (SUROBOYO)

Pemerintah Desa Lembursawah menggunakan pola membangun dari pinggiran dalam mengembangkan dan memajukan wilayah desanya. Dengan pola pembangunan seperti itu, desa yang terletak di Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi ini berupaya untuk mempersempit jurang pemisah atau disparitas antarwilayah, antarsektor, dan antar pelaku ekonomi.

banner 970x90

“Penerapan sistem mambangun dari pinggiran merupakan salah satu jalan untuk mempercepat pemerataan hasil pembangunan,” kata Kepala Desa Lembursawah, Eti Rumiati kepada wartawan, Selasa (9/7/2019).

Membangun dari pinggiran, lanjut dia, juga merupakan tindakan afirmatif atau penguatan untuk menggerakkan kegiatan ekonomi yang selama ini kurang mendapat prioritas. Beberapa subsektor yang dapat tergarap oleh program tersebut antara lain  ekonomi perdesaan yang berbasis ekonomi tradisional serta pertanian dan usaha mikro kecil. 

“Upaya ini dipercepat dengan kebijakan fiskal berupa penggelontoran Dana Desa sebagai salah satu sumber pemasukan bagi desa untuk membiayai pembangunan di desa,” ujar Eti. 

Untuk mengefektifkan pencapaian tujuan membangun dari pinggiran, lanjut dia,  peruntukan Dana Desa (DD) harus benar-benar sesuai alokasinya dan jangan disalahgunakan. Jika terjadi penyimpangan dalam peruntukan dan penggunaan DD, ujung-ujungnya akan menjadi petaka bagi okunm yang melakukannya.

“Intinya  semua program desa harus dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip  keterbukaan publik, transparansi, dan kejujuran,” tuturnya.

Di Desa Lembursawah, lanjut dia, pemdes menerapkan prinsip-prinsip tersebut dan menjalin kemitraan yang kuat dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat sebagai representasi dari masyarakat. Pemdes menjalankan tugas sebagai pengelola dan BPD sebagai pengawas pengelolaan DD.

“Alhamdulillah sampai saat ini pengelolaan keuangan di desa kami sudah lebih baik dan dampaknya positif bagi kemajuan desa. Kami tidak mau, salah urus pengelolaan Dana Desa berakhir di penjara,” tutur Eti. (*)

Print Friendly, PDF & Email