Pemadaman Listrik 18 Jam Rugikan UKM di PNG

oleh -
Pemilik warung di Perumahan Nirwana Graha, Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi memperlihatkan es krimnya yang hancur dan mencair akibat pemadaman listrik selama 18 jam.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Pemadaman listrik di sebagian besar wilayah Pulau Jawa selama 18 jam menimbulkan kerugian bagi pelaku UKM (usaha kecil dan menengah) di Kota Sukabumi. Salah seorang pemilik warung di Perumahan Nirwana Graha (PNG), Puput, mengalami kerugian besar dari komoditas ek krim dan kehilangan pendapatan dari penjualan pulsa telepon seluler.

banner 970x90

“Semua es krim yang disimpan di dalam freezer hancur karena menjadi air dan tidak bisa dijual, sedangkan untuk jualan pulsa sama sekali tidak jalan karena sinyal telepon seluler juga mengalami gangguan,” kata Puput ketika ditemui di PNG Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Senin (5/8/2019) pagi.

Seperti diketahui, pemadaman listri terjadi secara massal akibat terjadi gangguan pada sistem turbin di PLTU Suralaya, Cilegon, Banten. Di sebagian besar wilayah yang terkena gangguan, pemadaman listrik berlangsung selama 18 jam. Di PNG, gangguan listrik terjadi dari pukul 12.05 Minggu (4/8/2019) sampai dengan pukul 06.35 Senin pagi.   

“Dari es krim saya rugi total karena tidak ada satu pun yang dapat dijual. Sedangkan dari penjualan pulsa tidak ada pemasukan sama sekali,” ujar Puput.

Namun di sisi lain dia mendapatkan tambahan omset dari penjualan air mineral untuk isi ulang galon. Sebagian besar warga PNG sangat membutuhkan air dalam galon karena sistem pengadaan airnya menggunakan pompa listrik. Ketika listrik mati, putus pula pasokan air ke rumah warga.

“Sejak sore, sekitar bada Ashar permintaan isi ulang galon tidak berhenti.  Begitu juga galon air mineral bermerek banyak pembelinya.  Sebelum Magrib, semua persediaan air di dalam galon maupun isi ulang habis terjual,” tutur dia.

Namun keuntungan dari penjualan air mineral tetap tidak bisa menutup kerugian akibat hancurnya es krim. Pemadaman listrik dalam rentang waktu setengah hari dan semalam suntuk hingga tembus pagi hari, kata dia, tetap merugikan para pedagang kecil seperti dirinya. Warga yang lain pun harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membayar pengeluaran tidak terduga seperti untuk membeli lilin. 

Pada saat mati listrik, pedagang dadakan berkeliling PNG untuk menawarkan lilin dengan harga yang tiba-tiba naik yaitu Rp10 ribu untuk tiga batang. Sebagian warga terpaksa membeli lilin yang harganya melonjak itu karena persediaan di warung-warung telah habis.

“Kami mempunyai bayi di rumah. Saya beli enam batang lilin dengan harga Rp20 ribu karena di warung habis. Daripada harus bergelap-gelapan, saya membeli  lilin dengan harga yang tidak normal,” kata  Rusdianti (35), warga PNG. (*)

Print Friendly, PDF & Email