Tidak Ada Jual Beli Tanah Negara di Rawabolang

oleh -
Paoji Nurjaman, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi PDI Perjuangan.

Wartawan Usep Mulyana

Desas-desus adanya dugaan praktik jual beli tanah negara di Kampung Rawabolang, Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi antara seorang pengusaha bernama Asep dan kelompok petani penggarap sama sekali tidak benar. 

banner 970x90

Hal ini disampaikan Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Sukabumi, Paoji Nurjaman usai mengikuti pertemuan bersama Muspika Jampangtengah dan Lengkong serta perwakilan pengusaha dan petani penggarap yang membahas seputar perpanjangan kontrak HGU PT Bumiloka Swakarya dan Sindu Agung di Aula Kecamatan Jampangtengah, Kamis (3/9/2020).

“Tidak ada jual beli di Rawabolang. Itu hanya perbedaan persepsi saja. Semuanya bisa diselesaikan dengan cara duduk bersama antara pihak pengusaha, petani, dan stakeholders lainnya. Kami yakin dan percaya semua pihak yang terlibat di dalamnya memiliki maksud dan tujuan yang sama yaitu mewujudkan kesejahteraan masyarakat setempat lewat pemanfaatan tanah negara di Rawabolang,” kata Paoji. 

Senada dengan Paoji,  Camat Jampangtengah Sabar Suko menyatakan,  berita tentang adanya dugaan jual beli tanah di Rawabolang yang sudah terlanjur viral itu tidak didukung validitas data yang kuat. 

“Sampai kapan pun dan oleh siapapun, namanya tanah negara itu tidak bisa diperjualbelikan. Silahkan cek langsung registrasinya di kantor kami, ada atau tidak dokumen tentang proses jual beli tanah negara itu,” tandasnya.

Kehadiran pengusaha di lahan yang ada di Rawabolang, ujarnya,  tidak lebih dari sebuah kerja sama usaha antara pihak pengusaha dan petani penggarap untuk memanfaatkan lahan kurang produktif. Tujuannya untuk meningkatkan penghasilan petani di tengah masa pandemi seperti sekarang ini. 

“Pihak pemilik modal hadir untuk membantu petani. Di sisi lain petani penggarap  tidak memiliki modal untuk mengembangkan dan menggarap tanah tersebut agar menjadi lahan produktif. Dari kerja sama ini terjadi pola saling menguntungkan bagi kedua belah pihak,” kata Sabar Suko. 

Ditemui di tempat yang sama,  Asep,  pelaku usaha pertanian yang telah menginvestasikan uangnya di Rawabolang menuturkan, dia tidak membeli tanah garapan dari petani melainkan hanya melakukan lever garapannya sesuai luas lahan yang dimiliki setiap petani penggarap.  Itu pun selama proses penanaman dilakukan, dia yang menyediakan seluruh kebutuhan tanaman yang akan dibudidayakan.

“Saya  sendiri memiliki lahan garapan seluas 20 hektare. Di samping itu,  saya juga yang menyediakan pupuk, bibit, dan kebutuhan dasar lainnya. Sementara pekerjaan pendahuluan, pemeliharaan, perawatan dan proses menjelang panen, semuanya dibayarkan kepada para petani penggarap sebagai upah kerja.  Setiap orang perhari menerima upah sebesar Rp50 ribu,” jelasnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email