Polisi Sukabumi Membekuk Pengoplos Elpiji

oleh -
Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Wisnu Prabowo (tengah) menunjukkan barang bukti atas nama pelaku kejahatan pengoplosan elpiji bersubsidi dengan elpiji non-subsidi.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Jajaran Polres Sukabumi Kota menangkap dua pelaku penyalahgunaan bahan bakar gas (BBG) elpiji (LPG). Polisi menemukan bukti, para tersangka mengoplos BBG bersubsidi dengan LPG nonsubsidi sehingga mereka memperoleh keuntungan berlipat ganda. Kini kedua tersangka meringkuk di ruang tahanan Papolres Sukabumi Kota.

“Para tersangka membeli gas bersubsidi ukuran 3 kilogram dengan harga Rp19 ribu pertabung. Kemudian mereka memindahkan isi tabung 3 kilogram secara manual dengan menggunakan alat regulator, selang, dan konektor ke dalam tabung gas nonsubsidi berukuran 12 kilogram dan 50 kilogram,” kata Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Wisnu Prabowo dalam konferensi pers di kantornya, Senin (2/12/2019).

Kelompok pengoplos elpiji ini terdiri dari DD alias D (50), bos dari perusahaan berbadan usaha CV dan A alias R (33), anak buah D. Tempat kejadian perkara di Jalan Pelabuhan II Nomor 18, Kampung Warungkalapa RT 03 RW 01, Kelurahan Situmekar, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi.

Dalam satu hari D dan R bisa menghasilkan 10 tabung gas berukuran 12 kilogram dan 5 tabung gas berukuran 50 kilogram. Mereka membeli bahan baku dengan harga subsidi dan menjual produk oplosannya dengan harga komersil. 

Untuk memproduksi tabung berisi 12 kilogram mereka membutuhkan 4 tabung berukuran 3 kilogram. Modalnya cuma Rp76 juta. Lalu D menjual gas dalam tabung hasil kejahatannya itu dengan harga antara Rp129 dan Rp150 ribu pertabung. 

Sementara untuk mengisi tabung ukuran 50 kilogram, mereka membutuhkan 15 tabung berukuran 3 kilogram. Jadi modal dasarnya Rp285 ribu. Kemudian mereka menjualnya ke pasar bebas dengan harga Rp652 ribu pertabung.

“Para tersangka menjual tabung-tabung tersebut di daerah Palabuhanratu. Sebagian besar pelanggannya para pemilik restoran,” jelas Kapolres.

Berdasarkan pengakuan kepada penyidik, D dan R telah menjalankan kejahatan mengoplos LPG selama dua tahun. Keduanya diamankan bersama barang bukti berupa 129 tabung gas ukuran 3 kg, 100 tabung ukuran 12 kg, regulator, dan selang. Kelakuan miring mereka dapat diketahui polisi berkat laporan dari masyarakat.

“Pelaku punya faktur dan segel sendiri. Pada setiap transaksi selalu dicantumkan stempel CV milik pelaku. Badan usaha ini tidak resmi dan belum didaftarkan,” ujar AKBP Wisnu.

Penangkapan D dan R, kata Kapolres merupakan bagian dari operasi dalam rangka persiapan Natal dan tahun baru. Barang yang mereka timbun termasuk komoditas yang sangat dibutuhkan masyarakat. Operasi yang digelarnya bertujuan untuk mengantisipasi kelangkaan gas. 

“Kami menjerat para tersangka dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001  tentang Minyak dan Gas Bumi. Ancaman hukumannya antara 3 sampai dengan 6 tahun,” kata Kapolres. (*)

Print Friendly, PDF & Email