Desa Lembursawah Harus Terbebas dari Paham yang Merusak Umat

oleh -
Masyarakat Desa Lembursawah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi memadati tempat kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad tingkat desa.

Wartawan Nanang Setiana

Agama Islam tidak mengajarkan tindak kekerasan yang dapat menyakiti orang lain, baik kepada sesama umat Islam maupun penganut agama lain. Karena itu, lingkungan desa termasuk Desa Lembursawah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi harus terbebas dari paham yang mengajarkan kekerasan serta merusak lingkungan umat Islam.

Pernyataan itu dilontarkan Kepala Desa Lembursawah, Eti Rumiati, S.Pd. saat menyampaikan sambutan pada kegiatan Tabligh Akbar dalam Rangka Maulid Nabi Muhammad SAW di Balai Desa Lembursawah, Jumat (29/11/2019) malam. Kades Eti mengharapkan peringatan Muludan tersebut dapat mendorong umat Islam di Desa Lembursawah untuk meneladani Rasulullah SAW.

“Dengan meneladani Nabi Muhammad, kita dapat menyebarkan ajaran agama Islam yang penuh cinta kasih dan jauh dari tindak kekerasan,” ujarnya.

Keteladanan lainnya yang diperlihatkan Nabi Muhammad, kata Eti, menyangkut kebersihan. Untuk itu, dia mengimbau masyarakat Desa Lembursawah selalu menjaga tradisi dan kebiasaan hidup bersih dan sehat sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW.

“Seperti yang kita ketahui bahwa Rasulullah SAW itu seperti Al-Quran berjalan. Kehidupan dan tingkah laku beliau selalu menjadi suri tauladan bagi kita semua,” tutur Eti. 

Kepala Desa Lembursawah, Eti Rumiati, S.Pd., Ketua MUI Kabupaten Sukabumi, KH Oman Komarudin, dan Camat Cicantayan, Sendi Apriadi di sela kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Lembursawah.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad di Desa Lembursawah dihadiri unsur Muspika Cicantayan, para ketua RT/RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, Karang Taruna, seluruh elemen desa, dan masyarakat Lembursawah. Hadir pula Ketua MUI Kabupaten Sukabumi, KH. Oman Komarudin yang menyampaikan ceramah didampingi Ketua MUI Desa Lembursawah, KH. Ayi Saepudin, S.Ag.

Dalam ceramahnya, Kiai Oman menjelaskan berbagai keutamaan yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW. Karena itu, peringatan Maulid Nabi tidak sekedar kegiatan rutinitas. Nabi Muhammad sering dipanggil gelarnya oleh Allah SWT seperti Thoha, Ya Muzammil, Ya Mudatsir, dan Yasin. Sementara nabi-nabi yang lain cukup dipanggil namanya.

“Kelebihan lain, pada zamannya, Nabi Muhammad menjadi rasul sendirian, sedangkan nabi-nabi yang lain banyak yang hidup satu zaman seperti Nabi Daud dan Sulaiman atau Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail,” kata Kiai Oman.

Di samping itu, lanjut dia, Allah SWT dan para malaikatnya bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Kelebihan lainnya adalah Nuzulul Quran dan peristiwa Isra Miraj. Memperingati Maulid Nabi merupakan bentuk syukuran atas diajarkannya agama Islam kepada umat yang lahir belakangan agar dapat membedakan hak dan batil.

“Untuk membuktikan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad, kita harus memperbanyak membaca shalawat,” kata Ketua MUI Kabupaten Sukabumi. (*)

Print Friendly, PDF & Email