Kesulitan Air, Sawah di Cicantayan Gagal Panen

oleh -
Pesawahan di Desa Cicantayan, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi mengalami kekeringan sehingga tidak dapat dipetik hasilnya oleh petani.

Wartawan Aep Saepudin

Karena kesulitan pasokan air, di tengah musim kemarau yang terik, pesawahan di Desa Cicantayan, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi mengalami gagal panen. Para petani di Desa Cicantayan hanya bisa mengelus dada ketika menatap tanaman padinya yang baru berumur dua bulan dalam keadaan mengering dan meranggas.

banner 970x90

“Tidak ada lagi air yang mengalir ke sawah kami. Kondisi sawah kami kering kerontang,” kata Uci (63), salah seorang pemilik sawah di Desa Cicantayan kepada wartawan, Kamis (1/8/2019).

Awalnya Uci tidak mengira musim kemarau akan jatuh mulai bulan Juni sehingga pada bulan tersebut dia masih melanjutkan pengolahan sawah untuk ditanami padi setelah panen pertengahan tahun. Dia pun mengeluarkan biaya untuk membajak, mencangkul, membeli bibit, membeli pupuk, upah pekerja, dan pengeluaran lainnya. Sekarang semua dana yang telah dibayarkannya itu dipastikan tidak akan kembali. 

“Saya punya lima petak sawah, semuanya kekeringan. Tidak ada yang bisa diharapkan dari tanaman padi yang sudah mengering ini,” ujar dia.

Dihubungi terpisah, Sekretaris Desa Cicantayan, Aas Ashari menjelaskan, sawah yang mengalami kekeringan di Cicantayan sebagian besar mengalami gagal panen. Namun untuk tanaman padi yang umurnya di atas tiga bulan masih dapat dipanen dan dinikmati hasilnya oleh petani.

“Kawasan yang paling parah mengalami kekeringan adalah Sawahlega.  Di Sawahlega hampir tidak ada tanaman padi yang dapat diselamatkan karena kekurangan air,” tutur Aas.

Tidak kurang dari dua hektare tanaman padi di Sawahlega yang tidak dapat dipetik hasilnya oleh petani. Dalam satu tahun, para petani bisa memanen padinya sebanyak dua kali. Sehabis panen pada awal musim kemarau, pemilik sawah tidak dapat menanam padi kembali.

“Kami pernah bermusyawarah dengan BPD untuk mengatasi masalah kekeringan yang terus berulang setiap tahun ini. Solusinya dengan membangun embung atau tempat penampungan air. Dengan adanya embung, para pemilik sawah dapat mengurangi kerugian akibat tanaman padinya kehabisan air,” ujar Aas.

Namun untuk membangun embung ini terkendala faktor keuangan karena dibutuhkan dana hingga ratusan juta rupiah. Satu-satunya jalan Pemdes Cicantayan mengajukan permohonan bantuan dana kepada pemerintah, baik Pemkab Sukabumi, Pemprov Jabar, maupun pemerintah pusat untuk memperoleh dana pembangunan embung tersebut.

“Kami perkirakan, kalau ada embung para petani bisa panen sebanyak tiga kali dalam satu tahun,” kata dia. (*)

Print Friendly, PDF & Email