Kekeringan, Ratusan Hektare Sawah di Cibenda Terancam Gagal Panen

oleh -
Kekeringan yang melanda pesawahan di Desa Cibenda, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi tahun ini disertai ancaman gagal panen.

Wartawan Dicky Sopyan (SURADE)

Akibat dilanda kekeringan yang sangat parah, ratusan hektare sawah di Desa Cibenda, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi terancam gagal panen. Jika dalam waktu dekat tidak ada langkah-langkah teknis untuk memasok air ke persawahan tersebut dapat dipastikan semua tanaman padi di Cibenda akan rontok dan mati.

banner 970x90

Berdasarkan pantauan di Desa Cibenda, kekeringan melanda hampir semua blok pesawahan yang ada di desa tersebut. Tanaman padi yang rata-rata umurnya di atas satu bulan tumbuh di atas tanah yang kering kerontang. Bahkan di beberapa lokasi, tanah persawahan dalam keadaan retak-retak. 

Tampak pula sebagian pesawahan menyisakan daun padi yang berwarna hijau karena masih mendapat pasokan air dari saluran irigasi setempat. Tapi sebagian besar tanaman padi dalam keadaan tidak menyisakan daun hijau dan menjadi batang-batang yang mengering.

“Kekeringan pada musim kemarau kali ini merupakan yang terparah. Dari tahun ke tahun selalu terjadi kekeringan, hal yang lumrah pada musim kemarau. Tapi tahun ini kami memperkirakan, kekeringan akan disertai gagal panen,” kata Ketua Gabungan Kelmpok Tani (Gapoktan) Desa Cibenda, Kang Sober (45) kepada wartawan, Senin (1/7/2019).

Pada tahun-tahun lalu, kekeringan tidak disertai ancaman gagal panen. Sisa air pada saluran irigasi maih dapat mempertahankan tanaman padi terus tumbuh hingga tiba saatnya dipanen.

“Tidak ada air, petani tidak bisa hidup. Padi pada mati. Kalaupun dipaksa harus dipanen sebelum waktunya, mungkin hanya 20 persen hasilnya, itupun untuk sawah yang bagus. Kami tetap rugi,” ujar dia.

Kondisi kekeriangan di wilayah Kecamatan Ciemas diperparah dengan berkurangnya debit air pada saluran Irigasi Ciletuh. Bahkan saluran irigasi yang berada di Desa Cibenda benar-benar kering total. Akibatnya, kata Sober, semua sawah yang aliran airnya dipasok dari Irigasi Ciletuh juga mengalami kekeringan.

Di tempat terpisah, salah seorang petani, Udin (55), mengatakan, kalau terjadi gagal panen, dia dan keluarganya harus hidup dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Sebagian petani di Desa Cibenda, jelas dia, merupakan petani penggarap yang tidak memiliki lahan sendiri.

“Petani penggarap  harus mengeluarkan biaya pengolahan lahan dan perawatan tanaman. Lalu mereka harus membagi hasil panen dengan pemilik lahan sesuai kesepakatan,” tutur Udin. (*)

Print Friendly, PDF & Email