Penetapan Hari Lahir Pancasila Kebanggaan bagi Para Nasionalis

oleh -
Wakil Sekretaris DPC PDI Perjuangan, Dewek Sapta Anugrah.

Wartawan Aep Saepudin (Kowasi)

Penetapan Hari Lahir Pancasila pada tanggal 1 Juni merupakan kebanggaan bagi para nasionalis, selain Soekarnois dan Mahaenis. Apalagi penetapan tersebut dilegalisasi dengan Keputusan Presiden RI Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila karena dapat menempatkan Bung Karno sebagai bapak bangsa yang utuh. Bangsa Indonesia secara keseluruhan mengakui Bung Karnolah penggali Pancasila.

banner 970x90

Demikian disampaikan Wakil Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sukabumi, Dewek Sapta Anugrah dalam rilis yang disampaikan melalui fasilitas pesan online Whatsapp kepada wartawan, Senin (1/6/2020). Menurut Dewek, peristiwa tahun 1965 yang dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September –Bung Karno menyebutnya Gestok (Gerakan Satu Oktober)– seakan telah menegasikan Bung Karno dari narasi sejarah Bangsa Indonesia.

“Hari Lahir Pancasila diperingatai tanggal 1 Juni. Bulan Juni sebenarnya merupakan bulan kebanggaan bagi kaum nasionalis, Soekarnois, dan Marhaenis Indonesia karena di bulan Junilah seluruh romantika, dinamika, dan dialektika tentang perjalanan Bung Karno tergambarkan,” ujar Dewek.

Pada 1 Juni 1945, Bung Karno menyampaikan pidato bersejarah di depan sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Di bulan Juni pula tepatnya tangga 6 Juni 1901 Bung Karno lahir di dunia dari pasangan Soekami Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai pada saat fajar menyingsing. Dari titimangsa itu, Bung Karno mendapat julukan  Sang Putra Fajar.

Di bulan itu pula yakni tanggal 21 Juni 1970 akibat penyakit yang dideritanya, Bung Karno menghembuskan napas terakhirnya. Setelah menempuh perjuangan melawan sakitnya, Bapak Proklamator Indonesia ini meninggalkan dunia fana dalam keadaan tenteram.

Namun di sisi lain, sejak peristiwa tahun 1965, dinamika kebangsaan yang selama ini terjadi hampir menghilangkan akar sejarah Indonesia dari buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah. Tentu saja, kata Dewek, hal itu ditunjang oleh suprastruktur politik yang berusaha menghilangkan narasi sejarah kebangsaan bagi generasi penerus. 

“Kita tahu bahwa dinamika tahun 65 menyerat nama Bung Karno pada pusaran politik yang tidak baik. Sebagian kelompok mengatakan bahwa Bung Karno merupakan pelindung organisasi terlarang yakni PKI,” kata dia.

Semua ini, lanjut dia,  karena adanya gerakan kudeta merangkak yang dilakukan oleh kaum kontra revolusi untuk mengambil alih kekuasaan secara tidak wajar dengan cara-cara yang memilukan dan bahkan sampai saat ini menjadi tabir yang sulit diungkap. Gerakan 1965 yang tidak ketahui secara gamblang dan jelas telah menimbulkan paranoid tersendiri bagi generasi saat ini. Tentu saja hal ini harus dituntaskan bersama agar sejarah bangsa ini bisa diluruskan secara empiris.

“Kini kita dapat memperingati Hari Lahir Pancasila dengan tenang dan Bung Karno telah mendapatkan sebagian posisi terhormatnya kembali. Salah satu ajaran yang terkandung di dalam Pancasila adalah internasionalisme yang merupakan prinsip kemanusiaan yang tidak mengenal batas ragam, agama, dan suku,” ujar Dewek.

Kemanusiaan adalah humanisme yang digariskan di dalam Islam sebagai habluminannas. Salah satu sahabat Rasulullah mengatakan, “kita tidak bersahabat dalam iman, tapi kita bersahabat dalam kemanusiaan” kepada orang-orang yang tidak satu pandangan.  

Saat ini, situasi global sedang mengalami pandemi Covid-19. Pandemi ini telah dan akan membawa perubahan besar di bidang sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Demi tegaknya kemanusiaan seperti diajarkan Pancasila, bangsa Indonesia perlu saling menopang satu dengan yang lainnya dan bahu-membahu untuk mengurangi laju penyebaran Covid-19.

“Tentu ini bukan hal yang mudah tapi harus kita lakukan sebagai bangsa dalam entitas gotong royong. Kita perlu mengilhami semangat Bung Karno yang tidak pernah surut dan tidak pernah mundur untuk terus mewujudkan cita-cita Proklamasi 17 Agustus sebagai cita-cita Revolusi indonesia,” ujar Dewek. (*)   

Print Friendly, PDF & Email